RADAR JOGJA – Pemkot Jogja perlu mengkaji lebih dulu terkait usulan pembangunan skywalk dari DPRD Kota Jogja. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja Hari Setyowacono mengatakan, pengkajian tidak terlepas dengan penataan kawasan.

Skywalk kan otomatis jalan di atas, nanti dikaji dulu sisi tata ruangnya. Tahapan kajian ini sebetulnya masih di Bapedda,” kata Hari. Ia menjelaskan, tahapan kajian pembangunan skywalk masih dilakukan oleh Bappeda Kota Jogja. Dalam hal ini dia melakukan tindak lanjut atas hasil kajian tersebut.

Terkait apakah kajian layak, urgent atau tidak, dikatakan jika memang urgent dilakukan dan dibangun skywalk maka langkah selanjutnya dari sisi teknis, yaitu menyusun detail engineering design (DED). “Karena ini  fasilitas umum, otomatis berpengaruh tidak hanya pada Jalan Prof Herman Yohanes saja. Tapi pengaruhnya juga terhadap kawasan kanan kirinya,” ujarnya.

Kajian penting dilakukan karena kaitannya dengan kawasan yang ada di sekitar. Manakala dikembangkan, harus menyesuaikan dengan kawasan tersebut. “Tapi kan paling awal kajian dulu, kaitanya dengan skywalk itu sendiri,” tambahnya.

Sebelumnya, anggota DPRD Kota Jogja Antonius Fokki Ardiyanto merekomendasikan agar di wilayah kota dibangun skywalk untuk mendukung destinasi wisata baru di kota pendidikan itu. Rekomendasi disampaikan pada pembahasan Raperda Rencana Tata Ruang dan Wilayah di gedung DPRD Kota Jogja pada Selasa (2/9) lalu.

Idenya dalam rangka penataan wajah Kota Jogja yaitu dengan latar belakang dengan akan dijadikannya kawasan Jalan Jenderal Sudirman sisi timur perempatan Gramedia sebagai kawasan pedestrian yang akan dibiayai oleh Dana Keistimewaan. “Kalau begitu akan berkonsekuensi terhadap keberadaan PKL yang ada di sana,” katanya.

Menurutnya, Kota Jogja dengan luas 32,5 km persegi harus membuka ruang ke atas atau ke bawah dalam menata wajah kota yang juga harus disinkronkan dengan kepentingan DIJ dan pusat. Hal ini agar Kota Jogja bisa dibuka ruang untuk membangun sky walk yang disesuaikan kondisi lokal dalam konsep rancangan raperda rencana tata ruang dan wilayah. “Ini belajar dari Kota Bandung dalam penataan PKL dan menciptakan destinasi wisata baru dengan membangun Skywalk Cihampelas,” tambahnya. (wia/laz)