MENENGOK tentang apa yang menjadi judul tulisan ini, terbesit dalam nalar berpikir si pembaca dan timbul pertanyaan, bagaimanakah dengan masa depan sarjana pendidikan bahasa Arab? Apakah masa depan sarjana bahasa Arab kurang cerah? Apakah fakta dan data menyatakan “kebenaran” bahwa sarjana pendidikan bahasa Arab memang kurang cerah? Atau malah ada sisi lain yang menjadi pembeda di era saat ini?

Pertanyaan dan pernyataan menghampiri dibenak para calon sarjana-sarjana, pada prodi pendidikan bahasa Arab ini. Dengan tulisan ini, penulis berharap ada pembaruan file dalam otak para akademisi dan masyarakat. Bahwa ada harapan dengan diberlakukannya model dan pendekatan baru, agar sarjana pendidikan bahasa Arab memiliki bekal baik secara intelektual, spiritual, dan emosional sehingga mampu berinovasi dan berkreasi di kehidupan nyata, dunia kerja, dan dunia karir.

Jika kita telusuri ke belakang dan menjelajahi sekilas tentang sejarah, disebutkan dalam artikel yang ditulis oleh Muhbib Abdul Wahab dosen FITK UIN Jakarta, bahwa “Image” pelajaran bahasa Arab yang sulit masih melekat di benak para siswa dan masyarakat. Hal ini bisa jadi dipengaruhi oleh kejumudan bahasa Arab yaitu bahwa bahasa Arab hanyalah “Wasilah” untuk memahami ilmu agama Islam. Rumusan keilmuan bahasa Arab adalah rumusan kaidah “Nahwu-Sharf” yang sudah matang dan terbakar. Artinya tidak bisa lagi dikembangkan.

Tingkat kesulitan itu muncul akibat dari pemahaman dan keyakinan yang mengakar bahwa keilmuan bahasa Arab sudah matang dan tak bisa dikembangkan lagi. Okelah, pada tingkatan Ontologi dan Aksiologi bahasa Arab mungkin sudah matang dan terbakar, namun dalam tataran Epistemologi bisa sekali untuk berkembang dan dikembangkan.

Belajar bahasa Arab memang tidak seperti belajar bidang pelajaran lain, belajar bahasa Arab membutuhkan “action”, “practice” dan “confidence” berbahasa Arab, tidak cukup belajar apa itu struktur bahasa Arab, kaidah bahasa Arab dan lainnya yang bersifat pengetahuan saja. Agaknya ini yang menjadi perhatian penuh dalam model pembelajaran kekinian dalam perspektif Abad-21.

Problem yang sampai saat ini masih dibahas dan diperdebatkan dalam dunia pembelajaran bahasa Arab adalah bahwa paradigma dan model pembelajaran bahasa Arab modern dan tradisional. Lembaga pendidikan di pesantren modern berparadigma bahwa belajar bahasa adalah berbahasa.

Artinya, bahasa digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari sehingga berbahasa Arab itu hidup. Belajar bahasa ditekankan pada aspek berbicara. Berbeda dengan lembaga pendidikan pesantren tradisional yang menggunakan bahasa sebagai “alat” memahami teks-teks agama. Belajar bahasa lebih ditekankan pada proses membaca dan menulis.

Makanya biasanya lulusan pondok pesantren modern lebih berani dan aktif berbicara bahasa Arab ketika terjun ke perguruan tinggi. Lulusan pesantren tradisional cenderung pasif ketika diperguruan tinggi. Hal ini tidak serta merta di generalisir tentang kenyataannya.

Di lembaga sekolah formal milik pemerintah mencoba untuk menggabungkan model diatas dengan empat kemahiran berbahasa Arab dalam satu wadah pembelajaran (sebut saja “Nadhariyatul Wahdah”). Namun tetap saja, prosesnya tidak semudah yang di teorikan.

Fakta membuktikan bahwa lulusan pesantren modern mayoritas lebih mudah belajar bahasa Arab ke timur tengah, dibanding lulusan pesantren tradisional. Hal ini mungkin karena faktor berbahasa diatas. Lalu apakah kita sebagai akademisi, praktisi, guru, serta dosen akan berkutat pada fakta tersebut (problem) tanpa mencari solusinya? Tentu tidak.

Menjadi tidak penting ketika semua siswa terjun ke perguruan tinggi, sebab pada tataran perguruan tinggi semua mahasiswa di samaratakan untuk belajar dan menuntut ilmu. Tidak ada perbedaan dalam belajar diperguruan tinggi atau kasta kelas. Semuanya sama dalam wadah satu jurusan dan satu prodi pendidikan bahasa Arab. Maka dari itu perguruan tinggi mencoba fokus pada “solusi” bukan pada “problem”.

Dalam perguruan tinggi, jurusan pendidikan bahasa Arab memiliki visi, misi, serta standar lulusan. Mahasiswa tidak hanya difokuskan pada pembelajaran kemahiran berbahasa Arab, pada unsur-unsur kebahasa-araban, namun juga pada aspek kependidikan dan kepengajaran. Sebagai guru yang profesional tidak hanya memiliki kompetensi berbahasa dan kebahasaan, namun juga harus memiliki kompetensi kependidikan.

Ini agaknya yang menjadi lebih mendalam tentang tujuan pendidikan bahasa Arab di Indonesia. Lebih jauh daripada itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membekali skill mahasiswa prodi pendidikan bahasa Arab, karena perkembangan zaman.

Pada era kekinian yang syarat akan perkembangan teknologi, perekonomian, perdagangan bebas, dan model pendidikan, maka perguruan tinggi menggagas desain pembelajaran yang holistik, kontekstual, dan futuristik. Hal itu menjawab tantangan arus globalisasi yang semakin deras, revolusi industri 4.0, dan disruptif era.

Dalam konteks pendidikan Abad 21, ada 3 hal yang menjadi fokus tujuan yaitu kecakapan belajar dan berinovasi, kecakapan informasi, media, dan teknologi, kecakapan hidup dan karir. Menurut 3 hal tersebut, sekiranya mahasiswa harus mampu berbahasa Arab secara lisan, mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadi mereka dan yang mereka alami sehari-hari atau pengalaman berkesan selama hidupnya. Mahasiswa mampu bercerita menggunakan bahasa Arab tentang semua tema dalam forum diskusi, mahasiswa mampu bermain peran seperti (muhadatzah, pidato, drama).

Mahasiswa juga mampu membuat proposal kegiatan dalam bidang pembelajaran bahasa arab sebagai bentuk pengabdiannya di masyarakat, mahasiswa mampu membuat produk bahan ajar dan media pembelajaran serta mampu mengaplikasikannya. Mahasiswa mampu menulis karya ilmiah baik berbentuk makalah, artikel, ataupun paper, mahasiswa mampu mengadakan micro research secara berkelompok.

Juga membuat mahasiswa mampu bersosialisasi dalam keberagaman serta mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk terus berkarya dan berkarir agar mampu beradapatasi dalam keadaan dan lingkungan. Indikator-indikator ini tentunya teringkas dalam sebuah standar lulusan perguruan tinggi yang termuat juga dalam kurikulum KKNI, yaitu mahasiswa menjadi guru bahasa Arab, penerjemah buku, ijazah, maupu native speaker, wirausaha travel haji dan umrah sebagai manajer dan atau muthawif. Juga sebagai guru, manajer dan atau tentor kursus bahasa Arab online maupun tatap muka, kepegawaian Kementerian Luar Negeri local staff dan atau home staff, guidance pariwisata, praktisi, jurnalis, penulis buku ajar bahasa Arab, aparatur sipil negara: polisi, polwan, PNS, islamic parenting seperti motivator, Parenting Coach dan Counselor.

Pembelajaran Abad 21 di Indonesia akhir-akhir ini direalisasikan dalam bentuk kurikulum kampus merdeka yang digadang oleh Kemendikbud. Tujuannya adalah sama mengacu kepada pendidikan Abad 21 yaitu pengembangan skill, kecakapan hidup di masyarakat, dan pengembangan karir.

Dalam konteks pendidikan bahasa Arab, dapat direalisasikan dengan model yang telah dikemukakan diatas. Beberapa kampus sekelas UMY dan UMM telah menyusun kurikulum ini dalam bingkai KKNI dan pendidikan Abad 21. Kampus tersebut berani memandukan tujuan prodi pendidikan bahasa Arab dan prodi bahasa dan sastra Arab. Tentunya hal ini membutuhkan sumber daya pengajar yang harus memadai dan berkompeten. Kombinasi antara lulusan dalam negeri dan luar negeri kiranya diperlukan.

Dalam faktanya, lulusan-lulusan PBA lima tahun terakhir ini sudah mampu mengembangkan kiprahnya di dunia pembelajaran bahasa Arab. Banyak dari mereka menjadi pengajar di pesantren-pesantren, menjadi PNS, menjadi dosen, menjadi penulis dan peneliti, dan mengembankan lembaga pelatihan dan kursus bahasa Arab. Banyak contoh yang bisa di jadikan “Ibrah” dan “Ghirah”, Agar calon sarjana pendidikan bahasa Arab semangat menatap masa depan. Tanpa penulis sebutkan contohnya siapa, yang pasti banyak sarjana lulusan pendidikan bahasa Arab yang sukses di bidang pendidikan, bidang kepenulisan dan penelitian, serta bidang enterpreneurship.

Gambaran di atas merupakan peluang yang sekiranya menjadikan minat dan semangat bagi mahasiswa pendidikan bahasa Arab untuk selalu mengembangkan skillnya untuk menatap masa depan. Peluang lainnya adalah semenjak kemunculan covid-19 yang berdampak pada keterbatasan tatap muka dalam belajar, model belajarpun berubah dengan memanfaatkan teknologi berupa aplikasi pembelajaran jarak jauh.

Dengan demikian aktivitas belajar-mengajar bahasa Arab sudah terbiasa terkoneksi jaringan dengan sumber belajar dari luar negeri. Misalkan melalui aplikasi video dan mengadakan event seperti webinar nasional maupun internasional, dengan mengundang pakar/dosen luar negerisebagai narasumber. Hal ini memangkas beban akomodasi, transportasi dan beban pengeluaran lainnya jika mau mengundang native bahasa arab dari orang Arab-nya langsung.

Namun demikian, banyak tantangan yang perlu dilalui baik mahasiswa maupun pendidik (dosen)bahasa Arab di abad 21 dan pasca covid-19 ini. Tantangan bagi mahasiswa d iantaranya pada hal mental dan konsistensi.

Mahasiswa harus dituntut bertahan hidup ditengah-tengah perekonomian dan keberagaman budaya. Mental untuk selalu unjuk diri dan percaya diri harus tertanam dalam agar mampu bersaing dalam dunia yang penuh dengan arus globalisasi.

Sedangkan bagi pendidik, tantangan yang dihadapi antara lain pendidik bahasa Arab harus terampil membuat media mengajar, memilah-milihaplikasi yang tepat dalam mengajar bahasa Arab, mencari metode alternatif yang efektif sebagai pengganti metode mengajar langsung. Selain itu pendidik harus menguasai tekonologi, merancang teknologi yang tepat guna dalam menunjang pembelajaran bahasa Arab.

Tidak mudah memang, aktivitas belajar mengajar bahasa yang selama ini mengandalkan interaksi langsung, sistem belajar jarak dekat, saat ini  mau tidak mau,  suka tidak suka aktifitas belajar berubah menjadi jarak jauh. Inilah yang menjadi tantangan dan PR besar ke depan bagaimana pembelajaran bahasa Arab ini tetap berjalan meski keadaan yang kurang kondusif. Jika semua elemen  mahasiswa, pendidik ataupun pakar bisa melewati semua ini dan bisa menangkap peluangnya, maka bisa dipastikan masa depan sarjana pendidikan bahasa Arab menjadi cerah, prospektif dan futuristik. (ila)

*Penulis merupakan Dosen STAI Masjid Syuhada Jogjakarta.