RADAR JOGJA – Beberapa UMKM di DIJ ternyata masih mampu menembus pasar ekspor Eropa di tengah krisis akibat pandemi Covid-19 ini. Deputi Pimpanan Wilayah Bank Indonesia (BI) Jogjakarta Wiyono menilai hal tersebut menjadi bukti bahwa UMKM merupakan golongan yang bisa bertahan terhadap krisis.

“BI sangat mendukung kegiatan UMKM berbasis ekspor karena sumber devisa negara itu dari ekspor dan hutang,” ungkapnya saat melepas produk ekspor di kawasan kasongan Bantul, Kamis (3/9).

Ekspor ini, lanjut Wiyono, menjadi angin segar bagi perekonomian DIJ. Sebab menutup defisit current point dengan modal dari luar negeri sangat sulit dilakukan saat ini. Jika cadangan devisa turun bisa mengakibatkan nilai tukar rupiah jatuh.

“Ini berita gembira untuk kita semua. UMKM mampu bertahan di tengah Pandemi COVID-19,” tambahnya.

Salah satu pelaku usaha yang melakukan ekspor Direktur Palm Craft Dedi Effendi mengakui pandemi Covid-19 membuat seluruh aspek usahanya berubah. Kemudian pihaknya berusaha mempelajari tren produk-produk kerajinan di pasar dunia. Dengan mengikuti tren dunia tersebut, maka ekspor bisa bertahan meski mengalami penurunan. Selama dua bulan Dedi tidak melakukan ekspor karena beberapa negara tujuan menerapkan lockdown.

“Vakum bulan Februari dan Maret, dan sejak Juni bisa melakukan ekspor kembali, rata-rata volume ekspor empat kontainer setiap bulannya,” jelasnya.

Dedi menyebutkan satu kontainer berisi 10 ribu pcs produk kerajinan lampu kombinasi rajut dan cermin senilai Rp 150 juta. Sistem pembayaran untuk ekspor kali ini, Dedi menerima pembayaran tempo enam bulan lunas. (sky/tif)