RADAR JOGJA – Meski tidak ditemukan kasus baru antraks di Gunungkidul, keberadaan spora kuman antraks masih sulit dibasmi. Sehingga, keberadaannya perlu diwaspadai agar tidak menjadi temuan kasus antraks kembali.

Kepala Seksi Kesehatan hewan dan Veteriner, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Retno Widiastuti mengatakan, terkait antisipasi antraks ada tiga area yang harus dijaga, yaitu kesehatan orang, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. “Dua hari lalu spora yang ada di tanah kami siram menggunakan formalin,” kata Retno dihubungi kemarin (1/9).

Dia menjelaskan, spora bertahan hidup sampai dengan 80 tahun di tanah dan bisa hidup lagi bila tidak dimatikan dengan formalin. Sampai kapan disirami formalin, kata dia, setelah ada survaillans dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Jogjakarta. “Lokasi penyiraman formalin di tegalan atau kebun pohon sengon Kapanewon Ponjong,” ujarnya.

Menurutnya, sampai dengan data kasus antraks di Gunungkidul  masih seperti Desember 2019, atau tidak ada penambahan kasus. Sebanyak 27 orang terjangkit penyakit yang disebabkan oleh bakteri bacillus anthracis tersebut.

Kemudian sebanyak 116 ekor sapi dan Kambing 52 ekor mati. Positif antraks tiga ekor sapi dan tiga ekor kambing di Ngrejek Wetan dan Kulon, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong. Lalu Padukuhan Jenglot, Desa Pucanganom, Kecamatan Semanu. “Musuh kita sporane (sporanya),” kata dia.

Namun demikian, khusus untuk lokasi tanah positif antraks kedepan masih dilakukan pengguyuran formalin dan betonisasi.  Selain itu, pihaknya sudah memberikan antibiotik sebanyak 8.990 ekor hewan ternak. Untuk vaksinasi sebanyak 1451 sapi dan kambing 3331  ekor.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Suseno Budi Sulistiyanto mengakui, sampai dengan sekarang masih ada tanah mengandung spora antraks. “Lokasinya di Ngrejek Wetan, Gombang, Ponjong,” kata Suseno.

Tentang penanganan antraks, menurutnya, pada Agustus-September tahun ini dilakukan vaksinasi ulangan di wilayah terpapar beserta daerah sekitar. Untuk lokasi yang dulu terpapar antraks dilakukan survailan dan pengambilan sampel tanah secara rutin oleh Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Jogjakarta. “Dan yang masih positif lokasinya disiram formalin,” ujarnya. (gun/bah)