RADAR JOGJA – Wilayah terdampak kekeringan di Gunungkidul terus bertambah. Dari total 18 kapanewon, warga terdampak krisis air bersih menyebar di 15 kapanewon.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, dari data itu sebanyak 129.788 jiwa kesulitan mengakses air bersih. Mereka sudah mengajukan permintaan bantuan dropping air. Untuk jumlah kalurahan terdampak kekeringan sudah ada 74, dari 144 kalurahan. ”Tiga kapanewon belum terdampak meliputi Playen, Karangmojo, dan Wonosari,” kata Edy Basuki saat dihubungi Selasa (1/9).

Tahun ini ada anggaran dropping air melalui BPBD sebesar Rp 700 juta. Sejauh ini sudah ada 550-an tangki air bersih disalurkan kepada masyarakat. Dikatakan, dampak kekeringan tahun ini belum separah jika dibanding 2019.

Berdasarkan data total jiwa terdampak pada tahun ini lebih sedikit dibandingkan 2019. Hingga pertengahan Agustus 2020, tercatat ada 94.000 jiwa terdampak kekeringan di Gunungkidul. Sedangkan pada pertengahan Agustus tahun lalu, jumlah jiwa yang terdampak menembus 100.000 jiwa.

“Dan untuk saat ini status belum darurat (kekeringan), tapi masih siaga,” ucapnya.

Sementara itu, Panewu Girisubo, Agus Riyanto, membenarkan, dampak musim kemarau sejauh tidak separah tahun lalu. Di 2019 untuk mencukupi kebutuhan air bersih, warga sampai menjual hewan ternak. “Tahun ini kemarau cenderung basah sesuai dengan prediksi BMKG. Di beberapa daerah masih sering terjadi hujan. Sehingga sumber air masih bisa dimanfaatkan dan tampungan air juga terisi,” kata Agus Riyanto.

Dia mencatat, warga terdampak kekeringan di wilayahnya sebanyak 11.675 jiwa atau 3.311 Kepala Keluarga (KK). Berlangsung hampir disemua kalurahan telah mengajukan permintaan dropping air bersih kepada BPBD Gunungkidul. “Mulai akhir Juli melalui dana kapanewon juga mulai melaksanakan dropping air bersih,” ujarnya. (gun/bah)