RADAR JOGJA – Menjelang akhir masa jabatannya, Bupati Gunungkidul Badingah nguda rasa atau mengevaluasi diri. Kepala daerah dua periode tersebut menyadari, selama memimpin 10 tahun terakhir sulit mengakses program, karena link ke pusat maupun luar negeri lemah.

“Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Gunungkidul terbatas. Kondisi demikian berpengaruh terhadap pembangunan daerah di masa yang akan datang,” kata Badingah akhir pekan lalu.

Terlebih, saat ini dunia sedang menghadapi pandemi virus korona. Muncul permasalahan sosial, kesehatan, hingga keterpurukan ekonomi. Memang, situasi demikian tidak hanya dialami kabupaten berjuluk Handayani.

“Tapi pemimpin masa depan memiliki tanggungjawab pemulihan dampak pandemi,” ujarnya.

Menurut dia, kesulitan yang ada menjadi tantangan bagi kepala daerah periode berikutnya. Badingah memberi masukan, bupati penerusnya harus memiliki visi dan misi luas, sehingga mampu menyejahterakan masyarakat.

Selama hampir 15 tahun mengabdi, lima tahun sebagai wakil bupati, dan  hampir 10 tahun menjadi bupati, pihaknya mengakui memiki kekurangan jaringan ke pusat dan luar negeri untuk mengakses program.

“Saya menyadari kekurangan saya untuk link saya sangat terbatas, membutuhkan (pemimpin kedepan) hubungan lebih luas baik ke propinsi maupun ke pusat, syukur ke luar negeri,” ucapnya.

Bupati dengan segudang penghargaan tersebut menghendaki kemunculan pemimpin yang bisa berinovasi untuk memajukan kabupaten terluas di DIJ. Pemenang Pilkada 2015 dengan perolehan 166.712 suara terbanyak atau 39,52 persen dari Daftar Pemilih Tetap (DPT), memberi masukan kepada para pasangan calon (paslon) yang berlaga di tahun ini.

“Jika ingin merebut pemilih di Gunungkidul itu salah satu caranya memanusiakan manusia atau nguwongke,” pesanya.

Untuk itu perlu pendekatan yang lebih intens kepada para pemilih. Dia mengingatkan, era digitalisasi semakin memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi. Diharapkan, hal tersebut dimanfaatkan dengan baik untuk menjelaskan visi dan misi.

“Pemimpin nanti tidak lepas dari pilihan masyarakat sendiri, suka yang mana,” terangnya.

Kepada Aparatur Sipil Negara (ASN), Badingah mengingatkan agar menjaga netralitas. Tetap bekerja dengan baik dalam fungsi pelayanan kepada masyarakat. Pilkada 2020 jago Badingah siapa?

“Semua calon sudah silaturahmi dengan saya. Insyaallah semua baik. Ojo takon sik aneh-aneh (jangan tanya macam-macam), aku netral,” selorohnya.

Seperti diketahui, ada empat pasangan yang sudah mendapatkan rekomendasi dari parpol yakni wakilnya saat ini, Immawan Wahyudi yang akan berpasangan dengan Martanty Soenar Dewi diusung NasDem, Bambang Wisnu Handoyo-Benyamin Sudarmadi yang akan maju melalui PDI Perjuangan.

Pasangan Sutrisna Wibawa-Mahmud Ardi Widianto  yang maju sebagai calon bupati yang diusung PKS, Demokrat dan PAN, Sunaryanta Heri Susanto yang maju sebagai wakil bupati dari Golkar dan PKB.

Sementara calon jalur perseorangan atau independen kemungkinan gagal melaju karena kedua pasangan saat verifikasi kekurangan syarat dukungan. Hasil verifikasi faktual awal dan perbaikan yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gunungkidul diketahui pasangan Anton Supritadi-Suparno dan pasangan Kelik Agung Nugroho-Yayuk Kristiawati tidak memenuhi syarat dukungan. Anton Supriyadi-Suparno hanya berhasil mengumpulkan 31.141 dukungan. Sedangkan pasangan Kelick Agung Nugroho-Yayuk Kristiawati hanya mencapai 22.747 dukungan.

“Dengan hasil Ini, keduanya dinyatakan tidak memenuhi syarat yang ditentukan KPU sebanyak 45.443 dukungan,” kata Ketua KPU Gunungkidul, Ahmadi Ruslan Hani. Untuk pendaftaran paslon sendiri dijadwalkan pada, 4, 5 dan 6 September 2020. (gun/pra)