SEJAK virus corona melanda dunia, termasuk negara Indonesia banyak terjadi pola perubahan di masyarakat baik struktur maupun dinamikanya. Berbagai dimensi kehidupan terdampak mulai dari pekerjaan (mata pencaharian), pendidikan, ekonomi, hingga sosial dan budaya.

Pergeseran nilai, norma, pola, struktur di masyarakat juga berada di luar kehendak manusia. Hal tersebut berdampak terhadap kondisi perekonomian negara dan masyarakat, tentunya jika pandemi berlangsung dalam waktu yang lama akan menyebabkan krisis moneter.

Sejumlah aktivitas dengan terpaksa harus dikerjakan dari rumah atau biasa disebut dengan pekerjaan daring (dalam jaringan), tujuannya untuk menghindari kerumunan dan kontak fisik secara langsung dengan orang lain. Dengan perubahan pola hidup tersebut berimbas pada munculnya istilah baru yang kini menjadi tren seperti bekerja di rumah saja, sekolah dari rumah, dan menjaga kontak fisik dengan orang lain. Istilah kata tersebut banyak digaungkan terutama oleh instansi pemerintah dan kesehatan dengan dijadikan sebagai poster himbauan, supaya pemerintah dapat meminimalisir laju penyebaran virus covid-19 ataupun menghentikan pandemi ini.

Dengan adanya kebijakan bekerja, belajar dan berbelanja di rumah dari pemerintah, maka aktivitas belanja daring juga tidak luput dari ruang gerak kebijakan tersebut. Tren baru yang menyebabkan perubahan gaya hidup, dan pergeseran perilaku sosial. Momen tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para perusahaan e-commerce atau online shop, sehingga para pelaku bisnis online banyak menawarkan produk dengan packaging yang menarik.

Di kala pandemi terdapat perilaku konsumtif yang mulai merambah ke berbagai sektor kebutuhan hidup. Semisal banyak kebutuhan yang tidak penting namun saat ini menjadi primadona tersendiri, yang menyebabkan barang tersebut dapat diperjualbelikan. Hal tersebut terdapat pada ciri khas masyarakat post-modern yakni membeli barang bukan karena faktor kebutuhan primer, sekunder, dan tersier saja, tetapi juga dengan kebutuhan gengsi, identitas sosial (prestise) semata.

Adanya online shop menawarkan beragam kebutuhan dengan berbagai promosi menarik yang ditawarkan kepada konsumen seperti cashback, gratis ongkir, dan diskon besar-besaran. Akibatnya masyarakat terhegemoni oleh tawaran menarik yang dikonsep lewat iklan dari berbagai media seperti televisi, koran atau majalah, yang menayangkan gaya hidup selebriti atau kaum kapitalis yang mengedepankan gaya hidup hedonis dan konsumtif.

Seyogyanya mereka sebagai public figure yang kerap menjadi faktor imitasi seseorang harusnya mampu menunjukan eksistensinya dengan penguasaan sikap panggung yang baik, menjaga marwah, berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Terlepas dari itu semua, belanja daring telah berhasil menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat post-modern, yang selama “di rumah saja” menjadi terpenuhi dengan mudah, aman, cepat, dan terjamin. Secara tidak langsung program-program ini berkontribusi membantu pemerintah dalam meminimalisir penyebaran covid-19. Juga menciptakan keharmonisan baru karena dinilai individu tidak bersinggungan “interaksi” langsung dengan individu lainnya, meskipun masih bisa melalui media sosial.

Namun disisi lain, dengan adanya kemudahan dalam berbelanja daring menyebabkan masyarakat tergoda oleh tawaran menarik untuk konsumsi berlebih tanpa bisa mempertimbangkan dengan akal sehat mana kebutuhan yang penting dan tidak. Masyarakat “terpapar” yang dikhawatirkan timbul ketidaknormalan perilaku konsumsi yang bisa menjadi penyakit sosial baru.

Seharusnya masyarakat bisa lebih bijaksana lagi dalam memilah ketika membeli barang online, karena kondisi keuangan di kala pandemi harus diperhitungkan, jangan sampai terlilit hutang akibat hanya mencari kepuasaan semu atau sebatas meningkatkan harga diri yang padahal tidak terlalu berpengaruh terhadap status sosialnya.

Jika dihubungkan dengan teori salah seorang tokoh filosof atau teoritisi sosial terkenal Jean Baudrillard yang mengemukakan konsumsi masyarakat era post-modern saat ini dirasa lebih mengutamakan gaya hidup (life style) tanpa melihat fungsi dan tujuan konsumsi. Dengan kata lain dominasi atas konsumsi simbol menuntun manusia membeli sesuatu untuk prestise atau meningkatkan identitas sosial, dan tidak lagi berorientasi pada kebutuhannya. Secara umum Baudrillard memberi penggambaran mengenai adanya nilai guna, nilai tanda, dan simulacra dalam setiap kegiatan konsumsi yang dilakukan.

Melihat objek konsumsi sebagai sesuatu yang mempunyai makna tertentu daripada bentuk ekspresi yang ada terlebih dahulu. Pada masyarakat konsumsi “kebutuhan” tercipta oleh objek konsumsi. Objek yang dimaksud adalah klasifikasi objek itu sendiri, sehingga dalam pemikirannya konsumsi dapat dimaknai sebagai suatu tindakan sistematis (systemic act of manipulation of signs).

Aktivitas jual beli yang didorong oleh kebutuhan gaya hidup tanpa melihat nilai dari kebutuhan itu sendiri merupakan penyakit konsumtif masyarakat post-modern yang berbahaya. Akibat buruk dari perilaku yang tidak dapat dikontrol seperti rela berhutang uang, menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya (membunuh, merampok, mencuri, dan sebagainya). Realitas sosial yang memiliki latar belakang kapitalisme lanjut ini ternyata tidak hanya menciptakan sistem konsumsi berlebih namun juga perilaku masyarakat yang dapat dieksploitasi untuk mengkonsumsi komoditas yang menjadi keinginannya tanpa berpikir panjang.

Upaya yang dimaksudkan baik untuk mencegah penularan virus, prospeknya malah menjadi kerugian atau penyakit sosial baru. Di era post-modern, ketika masyarakat memutuskan untuk membeli barang yang menjadi pertimbangan bukanlah berasal dari kebutuhan mendesak (nilai guna) melainkan untuk kebutuhan citra dan gengsi. Hal ini ditambah dengan perkembangan industri kebudayaan yang semakin maju dan selalu mengeluarkan pembaharuan, serta adanya pergeseran nilai dan fungsi konsumsi, etika produksi dan belanja, tamak atau rakus, juga keinginan menguasai tiada henti.

Masyarakat terstimulus oleh gengsi sosial yang meningkat, sehingga tak akan pernah terpuaskan selama belum bisa menjadi pemenang dalam lingkaran yang katanya “kompetisi harta, status sosial”. Dengan mengetahui dampak positif atau negatif dari perilaku konsumtif di masa pandemi, harapannya bisa menghindari penyebaran virus maupun berbelanja lebih mudah sesuai porsi atau sistemnya. Bijaksana dalam mengatur keuangan adalah kunci sukses membantu pemerintah mengurangi korban virus.

Semangat dan selalu berhati-hati dapat menjaga produktivitas selama kegiatan daring. Tetap berperilaku bijak dalam menjalankan kehidupan dimasa pandemi ini. Supaya hidup dapat berjalan harmonis. (ila)

*Penulis merupakan Mahasiswa asal Bekasi yang sedang menempuh Program Studi Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  UIN Walisongo Semarang.