RADAR JOGJA – Pemprov DIJ telah memberi lampu hijau rencana perkuliahan tatap muka mulai September mendatang. Hanya saja, beberapa perguruan tinggi (PT) di DIJ masih memilih perkuliahan secara daring (dalam jaringan) atau online.

Kasubag Kerja Sama dan Humas Universitas Pembangunan Negeri Veteran Yogyakarta (UPNVY) Markus Kusnardijanto menjelaskan, September mendatang mahasiswa baru akan melakukan Pengenalan Kehidupan Kampus Bela Negara (PKKBN) selama empat hari. Terhitung 21-25 September. Sementara mulai 28 September perkuliahan secara daring masih akan dilakukan. “Baik untuk mahasiswa baru maupun mahasiswa reguler,” jelas Markus Selasa (11/8).

Menurutnya, sementara waktu perkuliahan akan dilaksanakan secara daring. Pihaknya masih menunggu kebijakan pusat terkait pelaksanaan luring (luar jaringan) di UPNVY. Sementara untuk mahasiswa yang tetap berkepentingan datang ke kampus, Markus mengaku, kampus tidak mengeluarkan surat rekomendasi kedatangan.

SINAU BARENG: Anak-anak belajar daring di Masjid Nurul Huda, Purwodiningratan, Ngampilan, Jogja,(11/8). Keterbatasan orang tua membeli data internet membuat anak-anak memanfaatkan wifi di masjid untuk belajar.( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA )

Mahasiswa hanya perlu mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Sedangkan jika datang ke lingkungan kampus, mahasiswa wajib memakai masker, melakukan cuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak. “Tentunya seperti pada umumnya harus memenuhi protokol kesehatan,” tambahnya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Universitas Islam Indonesia (UII) Ratna Permata Sari mengatakan, surat edaran rektor terbaru, UII memperpanjang masa pembelajaran daring. Waktu yang ditetapkan hingga akhir semester ganjil tahun akademik 2020/2021 yakni Februari 2021. Sedangkan untuk perkuliahan yang akan dimulai September mendatang, masih akan terus dilakukan secara daring.

Selepas berakhirnya perpanjangan waktu perkuliahan daring pada Februari, Ratna juga belum bisa memastikan. Apakah nantinya perkuliahan akan dilakukan secara daring atau luring. “Hingga saat ini belum bisa memastikan,” kata Ratna saat dihubungi terpisah.

Ia menambahkan untuk pembelajaran yang tidak bisa dilakukan dengan daring seperti praktikum dan praktik lain, akan tetap dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, pihaknya harus bersiap jika ada kemungkinan penambahan kasus saat kebijakan perkuliahan tatap muka diberlakukan. Jia diakumulasikan dari seluruh kampus di Sleman, jumlah mahasiswa yang ada di kabupaten ini berkisar pada angka 200 ribu jiwa.

Dari informasi yang didapatkan Joko, ada perguruan tinggi yang akan memberlakukan tatap muka secara bertahap. Dan, dimulai pada Januari 2021. Meskipun demikian, bagi mahasiswa yang akan kembali ke Jogja untuk melanjutkan studi, ia mengimbau untuk tetap membawa surat sehat. “Dan melakukan rapid test untuk yang berasal dari zona merah,” katanya.

Jika memang akan diberlakukan, Joko berharap nantinya masyarakat tidak terkejut jika ada penambahan kasus positif di Sleman. Oleh karena itu, pihaknya masih terus mengedukasi masyarakat untuk tetap lebih mawas diri. “Jangan terkejut. Saat ini bagaimana agar masyarakat bisa tetap tidak tertular maupun menulari yang lain,” ungkap Joko. (eno/laz)