RADAR JOGJA – Satu lagi bangunan bernilai sejarah yang turut terdampak pembangunan tol. Yakni Limasan Jaya Wirya di Tegalrejo, Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Bangunan kuno ini terdampak pembangunan tol Jogja-Solo.

Sang pelestari bangunan Soedarjo tak mengetahui luasan bangunan terdampak. Info awal menyebutkan setidaknya 2.200 meter persegi. Hanya saja luasan ini sebelum Soedarjo memberikan catatan atas keberadaan Limasan Jaya Wirya.

“Kalau luas lahan total 5.500 meter persegi, lalu dulu bilangnya 2.200 meter persegi yang kena trase tol. Kalau sekarang belum tahu,” jelasnya, ditemui di kediamannya, Selasa (11/8).

Suami dari Rumiyati ini memang tak mengetahui detil peta trase tol Jogja-Solo terbaru. Pada awalnya yang terdampak hanya sisi belakang atau dapur. Dalam sosialisasi lanjutan ada perubahan trase. Hingga akhirnya seluruh bangunan akhirnya terdampak pembangunan tol tersebut.

Pihaknya juga telah ngudo roso kepada Kepala Dispetaru DIJ Krido Suprayitno. Sayangnya hingga saat ini pejabat Pemprov DIJ tersebut belum memberikan jawaban. Termasuk solusi terhadap keluhan Soedarjo.

“Belum ada jawaban dari pihak yang mau bangun tol, mau digeser atau apa. Saya pernah bicara dengan pak Krido (Kepala Dispetaru DIJ),” katanya.

Walau begitu keluarga Soedarjo tak menolak adanya pembangunan trase tol Jogja-Solo. Pihaknya tetap mendukung program nasional tersebut. Meski dengan catatan ada kebijakan khusus terkait keberadaan bangunan bersejarah ini.

Soedarjo sempat memberikan catatan saat tanda tanga berita acara. Berupa pertimbangan keberadaan bangunan bersejarah. Baginya Limasan Jaya Wirya tak hanya bermakna bagi keluarganya, tapi juga masyarakat dan sejarah bangsa.

“Terkait tol karena ini program pemerintah kami setuju saja. Tapi saat tanda tangan persetujuan saya beri catatan, jadinya seperi apa tidak tahu. Bukan berarti saya menolak tapi rumah ini ada nilai sejarah sehingga agak berat,” ujar kakek 11 cucu ini.

Sempat pula ada saran untuk memindahkan bangunan. Hanya saja anak keempat dari lima bersaudara ini belum mempertimbangkan. Terlebih pilihan untuk pindah dengan memanfaatkan tanah persawahan. Menurutnya perpindahan tersebut justru menjadi beban bagi dirinya dan juga masyarakat sekitar.

“Saya tidak mau, kalau sudah tua siapa yang melanjutkan. Lagipula sawah masih ada hasilnya. Saya tunggu patok itu dimana, kalau sudah jelas, kira-kira sisa tanah masih berapa. Saya desain baiknya bagaimana, kalau dirampingkan bisa tidak,” katanya.

Awalnya bangunan ini dibangun oleh kakeknya yang bernama Jaya Wirya. Sosok ini adalah Lurah dari Tegalrejo. Sepeninggalan kakeknya medio 1940, kepemilikan beralih kepada keluarga. Soedarjo sendiri adalah generasi ketiga pelestari Limasan Jaya Wirya. 

Cerita dimulai saat memasuki medio 1949. Kala itu Jogjakarta diserbu oleh pasukan Belanda, tepatnya Agresi Militer II. Hingga akhirnya terjadi perang gerilya di seluruh wilayah Jogjakarta. Limasan Jaya Wirya menjadi saksi pertempuran antara pejuang dengan tentara Belanda.

“Dari militer akademi (MA)  sekarang AKABRI, anak buahnya banyak kegiatan disini untuk gerilya. Rumah dipakai untuk kegiatan perjuangan MA disini. Membantu perjuangan pasukan MA Jogja selama perang,” kisahnya.

Pertempuran menjadi sangat sengit karena lokasi Limasan Jaya Wirya strategis. Berada di sisi timur Jogjakarta sehingga mampu mengawasi pergerakan pasukan Belanda dari arah timur. Terlebih salah satu posko tentara Belanda berada di kawasan Bogem Kalasan.

Salah satu kisah yang tak pernah dia lupakan adalah perjuangan heroik seoang insinyur bernama Yohannes. Sosok yang akhirnya menjadi tenaga pengajar di UGM ini adalah ahli ledak. Salah satu karyanya adalah meledakan jembatan Tulung Tamanmartani dan Jembatan Prambanan.

“Dulu beliau sempat menginap disini sebelum meledakan jembatan. Tujuannya diledakan untuk menghambat pasukan Belanda yang datang dari timur,. Waktu itu saya masih usia SMP,” kenangnya.

Rumah ini juga sempat menjadi pusat interograsi pasukan musuh yang tertangkap. Termasuk para mata-mata yang sempat mengawasi gerak gerik pergerakan pasukan pejuang. Hingga akhirnya sempat digeledah oleh tentara Belanda.

“Kamar saya itu pernah untuk interograsi mata-mata. Jadi orang kita (Indonesia) tapi menbantu Belanda. Sempat digeledah (tentara Belanda) tapi untungnya tidak ketahuan. Padahal kamar saya itu ada helm tentara (pejuang Indonesia),” bebernya.

Puncak dari cerita ini adalah kisah Serangan Oemoem 1 Maret. Pertempuran sengit terjadi di kawasan tersebut. Termasuk serangan udara dari batalion pesawat milik Belanda. Hingga gugurnya ratusan pejuang di Pelataran Kalasan.

Cerita-cerita inilah yang menjadi nilai historis bagi Limasan Jaya Wirya. Kini perjuangan dari bangunan bersejarah ini tetap berlanjut. Hanya saja bentuknya berbeda. Tak ada lagi suara desingan senapan. Berganti dengan suara gamelan dan macapat para pelestari seni dan budaya.

“Sampai sekarang masih dipakai kegiatan kebudayaan. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu sampai bapak-bapak latihan gamelan disini. Kakek dulu amanah tak boleh diubah, sehingga saya pertahankan, tapi kalau sekarang negara membutuhkan ya monggo,” katanya.

Saat ditanya status cagar budaya, Soedarjo tak mengiyakan. Menurutnya penyematan status tersebut menjadi beban. Salah satu pertimbangan adalah banyaknya regulasi yang harus dipenuhi.

“Mengajukan menjadi cagar budaya, tidak ada pikiran kesana. Kalau terikat saya tidak mau, karena ini milik pribadi. Cagar budaya harus begini lalu begitu, saya tidak bisa,” ujarnya. (dwi/tif)