RADAR JOGJA – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Jogja terus mendorong budaya literasi di kalangan masyarakat. Berbagai cara dilakukan agar tercipta nuasa membaca, di tempat ibadah sekalipun. Seperti kali ini dengan menyediakan pojok baca di Klenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan.

JIHAN ARON VAHERA, Jogja, Radar Jogja

Sebelum di Klenteng Poncowinatan, Dinas Perpustaan dan Kerasipan Kota Jogja juga menyediakan pojok baca di Masjid Diponegoro dan Gereja Mergangsan. Yang di Masjid Diponegoro diberi nama Doroti, sementara yang di Gereja Mergangsan yaitu Camelia.

“Yang di kelenteng sini namanya Cantika. Rencananya, pojok baca juga akan kami dirikan di pusat perbelanjaan dan pasar. Namun masih kami pikirkan dulu,” ungkap Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Jogja Wahyu Hendratmoko kepada Radar Jogja Selasa (11/8).

NUANSA MEMBACA: Pojok baca Cantika di Klenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan, Kota Jogja. (ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA )

Wahyu menyebutkan, tempat ibadah dipilih karena tidak jauh-jauh juga dari filosofi Kota Jogja sebagai kota pendidikan. “Jadi, kami juga bermaksud ingin menciptakan atmosfer atau nuansa pendidikan, dalam hal ini membaca di kota ini, termasuk di tempat-tempat ibadah,” katanya.

Di Cantika, ada sekitar 1.500 eksemplar, baik terbitan berkala maupun biasa. “Termasuk ada majalah, tabloid, buku biasa seperti fiksi dan non fiksi. Bukunya ada dari kami, juga donasi yang tergabung di Bank Buku Jogjakarta itu,” ujarnya.

Dikatakan, setiap satu minggu sekali akan ada pustakawan dari dinas yang datang. Untuk memantau sekaligus pembersihan dan pengelolaan bahan pustaka. “Selama dua bulan sekali juga akan kami putar frekuensinya agar tidak jenuh,” tambah Wahyu.

Pojok baca di Kota Jogja kini ada 10 titik. Dia menargetkan dapat terjamah di ruang atau fasilitas-fasilitas publik. Bahkan hingga di pelosok-pelosok Kota Jogja. Agar atmosfer literasi dapat tercipta secara nyata di Kota Jogja sebagai kota pendidikan.

Ia menyampaikan minat baca masyarakat dilihat dari kunjungan perputakaan menurun. Sebelum pandemi dapat membukukan sekitar 2.000 hingga 5.000 orang sehari. Namun kini menjadi berkurang, karena layanan juga menyesuaikan. Selain itu DIJ masih memperpanjang masa tanggap darurat hingga 31 Agustus.

Ia menilai karena layanan terbatas dan mahasiswa juga belum secara efektif melakukan pembelajaran tatap muka, wajar jika pengunjung berkurang. Kini pengunjung rata-rata ada 900 hingga 1.000 orang perhari. Tutup layanan pukul 18.00. “Jadi wajar jika terjadi penurunan, di Perputakaan Kotabaru hanya kami batasi per ruangan 75 orang. Masuk juga harus cek suhu dan tapak kaki akan kami semprot pakai disinfektan dulu,” papar dia.

NUANSA MEMBACA: Pojok baca Cantika di Klenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan, Kota Jogja. (ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA )

Gautama Fantoni dari perwakilan Klenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan menyebutkan, pojok baca itu sangat cocok dengan arti nama kelenteng. “Saya rasa ini sangat tepat karena kelenteng sendiri merupakan tempat untuk berkumpul untuk belajar. Adanya perhatian dari perpustakaan ini sangat pas sekali,” ujarnya.

Dengan adanya Cantika itu, dia mengatakan sesuai dengan sejarah berdirinya Klenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan. “Saya berharap dengan adanya pojok baca di ruang multiguna ini dapat dimanfaatkan para pengunjung atau anak-anak yang datang ke sini. Semoga mereka tertarik dan mau meningkatkan budaya membaca,” harapnya. (laz)