RADAR JOGJA – Pembangunan tol Jogja-Bawen berdampak pada sejumlah bangunan bersejarah di Sleman. Salah satunya adalah rumah Limasan Mijosastro di Pundong Tirtoadi Mlati. Bahkan rumah ini juga tercatat sebagai bangunan cagar budaya oleh Dinas Kebudayaan Pemkab Sleman.

Berdasarkan catatan sejarah, Limasan Mijosastro adalah bekas posko tentara Indonesia sebagai tempat penyimpanan logistik selama perjuangan. Bahkan bangunan tua ini pernah dibakar oleh penjajah Belanda. Rumah ini juga sempat menjadi kantor lurah pertama Kelurahan Tirtoadi.

“Mijosastro niku bapak saya, beliau memberi wasiat agar rumah tersebut tetap dirawat dan dijaga. Rumah ini sudah sejak jaman eyang saya, beliau dulunya glondong (lurah) sebelum merdeka. Saya adalah generasi ketiga,” jelas pelestari Limasan Mijosastro, Widagdo Marjoyo, 66, Selasa (11/8).

Widagdo menceritakan sejarah bangunan ini. Awalnya bangunan ini memang sebagai hunian biasa. Hingga akhirnya berubah fungsi mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pernah pula menjadi kantor administrasi hingga mendukung aktivitas warga.

Widagdo tak mengetahui pasti tahun pembuatan Limasan ini. Hanya saja berdasarkan cerita orangtuanya, bangunan ini telah berusia 50 tahun. Limasan Mijosastro menjadi satu-satunya bangunan Jawa tertua di wilayah Desa Tirtoadi Mlati Sleman.

“Rumah ini sudah memiliki SK dari Bupati Sleman yang ditetapkan pada tahun 2017. Juga sudah mendapat penghargaan dari Gubernur (Hamengku Buwono X) pada 2015 sebagai cagar budaya,” katanya.

Limasan dengan panjang 60 meter dan lebar 30 meter ini memiliki ciri khas bangunan lawas. Tak ada perubahan signifikan dari setiap struktur bangunan. Semuanya masih terjaga keasliannya. Itulah mengapa limasan ini masuk dalam bangunan cagar budaya.

Pernyataan Lurah Tirtoadi periode 1976 hingga 1995 dikuatkan dengan aturan baku. Berupa Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010. Ada pula Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2012. Isinya pemerintah wajib menghentikan proyek yang mengenai cagar budaya.

Ini yang menjadi pegangan bagi Widagdo. Selain nilai sejarah, bangunan ini memang menampilkan nilai filosofis tinggi. Dia berharap agar ada kebijakan khusus terkait pembangunan ruas tol Jogja-Bawen.

“Sudah lapor ke Dinas Kebudayaan, lapor ke Pak Krido (Kepala Dispertaru DIJ). Lalu akhirnya ada tiga petugas tol yang mengecek betul tidak cagar budaya. Info awal bilangnya (Limasan) mau digeser,” ujarnya.

Walau begitu Widagdo memastikan tak ada penolakan. Keluarganya tetap mendukung program pemerintah pusat ini. Walau begitu dia tetap mengharapkan ada kebijakan khusus tentang keberadaan Limasan Mijosastro.

Hingga saat ini bangunan tua ini tetap dimanfaatkan oleh warga. Terutama untuk menggelar kegiatan seni budaya di perkampungan tersebut. Hingga sebatas ajang srawung bagi warga padusunan Pundong.

“Kami sekeluarga tidak menolak, tapi semoga ada kebijakan. Agar saksi sejarah ini tidak punah. Walau yang terdampak sekitar 16 meter persegi, tapi ini tetap nilai sejarah,” katanya. (dwi/tif)