RADAR JOGJA – Perusahaan joint venture farmasi Daewoong Infion mengumumkan penjualan reverse export produk erythropoietin (EPO) ke Korea Selatan mencapai lebih dari Rp 145 miliar dalam tiga tahun terakhir.

President Director Daewoong Infion Suh Chang-woo menuturkan, Daewoong Group membuka pabrik biofarmasi pertama  mdi Indonesia yang berlokasi di Surabaya dan melakukan transfer teknologi biofarmasi unggulan dari Daewoong Pharmaceutical untuk melakukan penelitian, pengembangan, dan  manufaktur berbagai produk biofarmasi di Indonesia.

“Kami senang sekali dapat memainkan peran utama dalam memajukan industri farmasi Indonesia dengan mengekspor bahan baku obat ke Korea Selatan, yang merupakan negara maju di bidang farmasi,” jelasnya melalui keterangan tertulis, Selasa (11/8).

Daewoong Infion saat ini memproduksi erythropoietin (EPO) dalam bentuk produk jadi dan larutan murni di Indonesia. Produk EPO merupakan produk untuk mengobati anemia pada pasien yang menderita gagal  ginjal kronis, menjalankan dialisis, dan mengidap anti-kanker.

“Produk EPO Daewoong telah mendapatkan sertifikasi halal dari LPPOM MUI pada Januari 2020. Sejak diluncurkan pada tahun 2017, produk ini mampu menjadi produk dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia hanya dalam waktu enam bulan dan terus menjadi produk yang terbaik,” ungkap Suh Chang-woo.

Menurut Suh Chang-woo, Daewoong Infion akan berekspansi ke pasar farmasi Timur Tengah senilai Rp 970 triliun. Perusahaan memperoleh sertifikasi halal untuk produk Epidermal Growth Factor (EGF) pada bulan Mei lalu setelah produk EPO milik Daewoong mendapatkan sertifikasi halal pada bulan Januari.

“Total penjualan reverse export produk EPO diperkirakan akan melampaui Rp 200 miliar hingga akhir 2020,” tandasnya. (tif)