RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo meluruskan kabar burung melalui pesan berantai tentang pedagang pasar Pakem yang positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Faktanya pasien tersebut bukanlah pedagang pasar Pakem. Sosok ini adalah tukang tagih kredit yang bermobilitas di pasar tradisional.

Walau begitu dia membenarkan mobilisasi pasien ini di Pasar Pakem. Upaya medis berlanjut dengan tracing kontak erat. Untuk langkah ini Dinkes Sleman setidaknya telah memetakan 14 kontak erat kasus.

“Sudah kami lakukan rapid tes dan hasilnya non reaktif. Ada 14 kontak erat terdiri dari pedagang pasar hingga keluarga pasien,” jelasnya, ditemui di Kantor Dinkes Sleman, Senin (10/8).

Sebelumnya, pesan berantai tersebut juga meminta kontak erat pasien melakukan uji rapid diagnostic test (RDT). Joko meminta warga tak termakan informasi liar. Perlu melakukan konfirmasi kepada instansi terkait. Terutama kepada Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Pemkab Sleman maupun tingkat desa.

“Kami tegaskan pasien itu bukan pedagang tapi mendring atau tuqng tagih kredit keliling. Tempat tinggalnya Dusun Pakem Gede, Pakembinangun,” katanya.

Upaya disinfeksi telah dilakukan oleh Satgas Covid-19 Pakembinangun dengan penyemprotan disinfektan ke seluruh lingkungan pasar. Sayangnya upaya ini hanya berlangsung selama satu hari. Pihaknya juga melakukan edukasi penerapan protokol kesehatan Covid-19 dan adaptasi kebiasaan baru kepada penghuni pasar, ruang dan fasilitas publik.

“Upaya pendisiplinan masyarakat tentang protokol terus berlangsung dengan pendekatan persuasif. Lalu sidak secara periodik. Pasar, mall, tempat peribadatan, tempat wisata,” ujarnya.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman Novita Krisnaini menuturkan terungkapnya kasus dari uji RDT wajib bagi pedagang keliling yang masuk pasar tradisional. Di satu sisi pihaknya tak mengetahui sumber penularan. Novita mengakui bahwa pelacakan kasus tak jelas. Hanya saja profesi pasien memiliki potensi tinggi terpapar Covid-19.

“Jadi terjaring syarat wajib rapid tes, hasilnya reaktif. Lanjut uji swab ternyata hasilnya positif (Covid-19). Memang kebijakan dari Disperindag Sleman,” katanya. (dwi/tif)