RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo memastikan pemesanan alat penguji swab telah final. Berdasarkan keputusan Bupati Sleman, alat penguji Polymerase Chain Reaction (PCR) terpesan pertengahan Agustus. Anggaran yang dikucurkan sebesar Rp 1,6 Miliar.

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini menuturkan ada perubahan pemesanan. Awalnya direncanakan dua alat penguji swab PCR. Hingga akhirnya diputuskan satu alat beserta Reagen.

“Target pertengahan Agustus ditetapkan alatnya. Barang datang sekaligus dengan Reagen. Rencana memang 2 unit, tapi mending alat satu lalu beli Reagen untuk 1000 pertama,” jelasnya ditemui di Kantor Dinkes Sleman, Senin (10/8).

Proses pengadaan alat menerapkan status tanggap darurat. Artinya tak ada lelang guna pengadaan alat tersebut. Pemkab Sleman menunjuk pihak yang mampu memenuhi persyaratan administrasi dan kebutuhan alat.

Walau penunjukan namun tetap sesuai kebutuhan. Setidaknya spesifikasi alat mampu melakukan pengujian spesimen dalam satu hari.

“Kemudian dari sisi pilihan cukup banyak karena yang mengajukan penawaran cukup banyak. Penjual juga menguruskan ijin dari Kementerian Kesehatan atau BNPB. Saat ini masih dalam proses itu,” katanya.

Pertimbangan pembelian alat uji apesimen adalah efektifitas tracing dan screening. Selama ini antrean di kelima laboratorium penguji terlalu lama. Penyebabnya adalah lonjakan spesimen dari seluruh wilayah DIj.

Adanya alat baru ini diharapkan mampu mengoptimalkan upaya tracing dan screening. Sehingga pemetaan persebaran Covid-19 menjadi lebih efektif. Langkah ini juga mencegah persebaran Covid-19 menjadi lebih luas.

“Target kami sehari minimal 150 specimen. Pemanfaatan alat uji specimen ini dikhususkan untuk Kabupaten Sleman saja,” ujarnya.

Penempatan alat penguji spesimen mengalami revisi. Awalnya alat ini akan diletakkan di Laboratorium Kesehatan Daerah Pemkab Sleman. Lalu atas pertimbangan teknis dialihkan ke RSUD Sleman.

“Alat ini membutuhkan supervisor spesialis patologi klinik. Alhasil dari awalnya di Labkesda Sleman kami sepakati di RSUD Sleman. Karena disana ada ahli patologi,” katanya.

Awal mula pengadaan alat uji swab berawal dari penolakan dari laboratorium penguji spesimen. Adapula antrean yang terlalu panjang dari kelima laboratorium.

Imbas dari antrean ini adalah tak lancarnya target uji 5.000 spesimen. Program yang awalnya berakhir akhir Juli  mundur hingga akhir bulan Agustus. Hingga saat ini baru sekitar 2.500 spesimen yang telah diuji.

“Screening di ponpes akhirnya kami pending dulu.  Kalau terjadi penimbunan (specimen) lagi di laboratorium ya mundur lagi. Mau tidak mau harus menunggu alatnya datang,” ujarnya. (dwi/tif)