RADAR JOGJA – Ketimpangan ekonomi menjadi kendala pelaksaan pembelajaran daring. Sebab, tidak semua orang tua murid mampu membeli gawai dan membeli paket internet tiap bulan. Belum lagi, tidak semua wilayah mendapat akses internet memadai.

Seorang guru SD Kedungsari 1, Edi Setyawan mengungkapkan beberapa orang tua yang tidak memiliki gawai. Sementara itu, tuntutan kurikulum yang begitu padat menuntut tiap siswa menguasai berbagai materi. “Kami memberi tugas setiap hari. Selain itu juga membuat video pembelajaran,” jelasnya.

Pemberian tugas ke siswa setiap hari bertujuan agar mereka tetap belajar meski di rumah. Namun, justru yang terjadi memberatkan orang tua karena mereka harus mendampingi anak untuk belajar. ”Apalagi untuk yang tidak memiliki gawai dan akses internet, mereka harus mengambil dan mengumpulkan tugas ke sekolah,” ujar Edi.

Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan, Agus Sujito mengakui ketimpangan ekonomi sehingga memberatkan orang tua untuk melaksanakan pembelajaran daring. “Orang tua banyak yang gelisah ingin segera masuk,” jelas Agus.

Karena pandemi, dinas tetap menerapkan kebijakan siswa belajar di rumah. Untuk siswa yang memiliki keterbatasan, tidak ada sinyal dan sebagainya pihaknya memprogramkan guru kunjung. ”Terutama untuk siswa yang tidak mampu mengakses internet,” jelasnya.

Program ini berjalan sejak 13 Juli lalu. Namun, sempat terhenti karena muncul klaster baru. Sampai kemarin program ini belum dijalankan lagi. “Waktu itu kasusnya sudah melandai. Tapi dengan situasi ini ada klaster baru guru kunjung kami hentikan dulu. Kalau sudah memungkinkan lagi kami programkan lagi,” jelasnya.

Dia pun meminta para guru untuk bisa memahami beberapa siswa yang tidak mengerjakan tugas karena terkendala akses internet. Maka dari itu, harus ada kreativitas guru masing-masing. Peran guru bimbingan konseling di sini melakukan kunjungan untuk mengetahui kendala di lapangan. ”Saya tekankan Guru BK sinergi dengan guru mapel dan guru kelas,” jelasnya.

Dikatakan, pihaknya mengusahakan bantuan akses internet untuk orang tua yang kurang mampu yang diambil dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Namun, tidak dapat memastikan berapa jumlah murid yang mendapatkan bantuan tersebut. “Semester genap kemarin kami sudah memprogramkan 50 ribu per bulan. Ada yang seluruh siswa, ada yang dipilih yang tidak mampu. Sudah dua bulan. Yang semester ganjil ini belum,” jelasnya.

Sementara Sekretaris Daerah Kota Magelang, Joko Budiyono menjelaskan, pihaknya saat ini sedang merumuskan bantuan akses internet untuk pendidikan. “Akan ada bantuan,” tegasnya. (asa/bah)