RADAR JOGJA – Jenazah Guru Besar Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Cornelis Lay MA telah dikebumikan di Pemakaman UGM, Sawitsari UGM, Sleman, Kamis(6/8). Sebelumnya jenazah disemayamkan lebih dulu di Balairung UGM untuk dilakukan upacara penghormatan terakhir dari civitas akademika.

Keluarga dan para pelayat tampak sedih menerima kenyataan sosok teman, sahabat, guru, cendekiawan yang dikenal egaliter itu berpulang. Istri almarhum, Jeanne Cynthia Lay Lokollo dan kedua puteranya, Dhiera Anarchy Rihi Lay dan Dhivana Anarsya Ria Lay yang berpakaian serba hitam dan berkalungkan kain tenun khas Kupang (NTT), kampung asal mereka, terlihat dengan raut muka sedih.

Ke peristirahatan Terakhir: Jenazah Cornelis Lay dimasukkan ke mobil jenazah usai upacara penghormatan terakhir di Balairung UGM untuk selanjutnya dimakamkan di pemakaman UGM, Sawitsari, Sleman ( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA)

Sorot matanya terlihat kosong, namun tetap tegar tanpa air mata. Sesekali tangisan Dhiera, putra pertamanya, kembali pecah saat menyampaikan sambutan mewakili pihak keluarga di momen upacara penghormatan terakhir. Baginya, Cornelis Lay adalah sosok ayah yang sangat luar biasa.
“Dari kecil hingga saya besar, beliau tidak pernah memaksakan kehendak kami. Tapi satu hal yang saya yakin, dia yakin bahwa kita mengerti apa hal baik yang harus kita lakukan, apa hal benar yang harus kita lakukan, dan apa yang kita rasa sebagai hal yang tepat untuk dilaksanakan,” katanya.

Berdasarkan hal itu, lanjutnya, ayahnya selalu mendorong kepadanya dan adiknya, Arsya, bisa menjadi individu yang baik dan berkarya, sehingga dapat bermanfaat bagi semua orang.

Prosesi upacara penghormatan dan pemakaman berlangsung khidmat. Kalangan civitas akademika UGM dan sejumlah tokoh hadir. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo terlihat kembali hadir di upacara pemakaman, kendati sehari sebelumnya sudah melayat ke rumah duka.“Beliau sudah seperti kakak saya, senior sekaligus teman saya. Mulai dari saya menjabat sebagai sekjen partai sampai saya mendagri, beliau selalu mendampingi saya,” kata Tjahjo kepada Radar Jogja.

Tjahjo mengaku sangat merasa kehilangan karena telah ditinggal sosok Mas Conny, panggilan akrab Cornelis Lay, untuk selamanya. “Saya sering telpon-telponan sama Mas Cony, sering berkirim pesan. Waktu beliau sakit di Singapura, saya datang ke sana,” sambungnya.

Bagi Tjahjo, Cornelis sangat konsisten dengan dunia intelektual. Walapun dia dekat dengan partai, dekat dengan kekuasaan. Tetapi tidak ingin mengabdikan dirinya di politik. “Dia tetap konsisten untuk sampai meraih gelar doktor dan profesornya di sini,” tambahnya. (cr1/laz)