RADAR JOGJA – Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki menjelaskan, UMKM di berbagai sektor terpukul sejak pandemi Covid-19 melanda. “Yang paling terpukul di sektor pakaian sampai 80 persen. Terutama yang pendapatannya harian. Tapi di sektor pertanian justru tumbuh 16 persen,” jelasnya saat ditemui di Hotel Atria Kamis (6/8).

Maka dari itu, pemerintah berupaya meringankan beban UMKM yang terpukul dengan program restrukturisasi termasuk subsidi bunga dan pajak. “Sudah lebih dari 29 persen penyerapannya. Untuk koperasi sudah 44 persen. Ini akan kami terus percepat,” jelasnya.

Sejauh ini, UMKM yang mampu bertahan yakni yang terhubung dengan marketplace digital. Sebanyak 13 persen dengan jumlah sekitar 8 juta pelaku usaha dapat bertahan. “Maka dari itu digitalisasi harus kami percepat. Bukan hanya masa pandemi saja. Tren konsumen ke depan akan belanja online,” jelasnya.

Lalu, UMKM yang berhasil melakukan adaptasi dan inovasi produk. Saya kira banyak perajin batik tidak laku. Tapi karena banting setir pakaian rumah seperti daster, celana pendek, sarung itu meningkat. “Sama juga dengan sektor minuman. Mereka membuat produk setengah jadi, frozen food, laku luar biasa. Inovasi produk dengan adaptasi dengan situasi baru,” jelasnya.

Namun, menurutnya, berapa pun nilai pemulihan ekonomi nasional tidak akan bisa memulihkan ekonomi dalam waktu dekat. “Karena daya beli turun. Sehingga konsumsi masyarakat turun,” jelasnya.

Pemulihan ekonomi sangat bergantung sejauh mana pemerintah bisa mengatasi Covid-19. “Kalau ada gelombang kedua, resesi bisa panjang. Maka kita perlu disiplin jangan ada yang menganggap enteng,” jelasnya. (asa/bah)