RADAR JOGJA – Bulan ini Gunungkidul memasuki musim panen singkong. Total luas lahan ubi kayu milik petani siap panen mencapai 45.816 hektare. Sedang petani dibayangi harga jual rendah.

Seorang petani warga Pengkol, Jatiayu, Karangmojo Martono mengatakan, saat ini sudah mulai panen singkong. Hasil panen sesuai dengan harapan, karena ukuran singkong besar dan memiliki kualitas bagus. “Tapi saya belum tahu harga jual singkong. Harapannya harga tetap tinggi supaya hasil berkebun bisa dinikmati,” kata Martono Rabu (5/8).

Kekhawatiran petani tentang harga jual rendah cukup beralasan. Berkaca pada musim panen tahun sebelumnya, harga di pasaran jatuh pada level rendah yakni, Rp 2 ribu per kilo gram. Petani berharap saat panen raya harga bisa lebih baik dan petani dapat memperoleh keuntungan.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ngudi Raharjo di Dusun Plosokerep, Bunder Patuk, Tumiran mengaku sedang mengembangkan jenis singkong jenis Ketan Bima Sena. Merupakan varietas lokal asli Gunungkidul. Satu pohon bisa menghasilkan singkong seberat 6-7 kilogram. Harga dipasarkan Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram. “Tapi saya menjualnya dengan sistem tebas. Seribu batang dibeli seharga Rp 6,5 juta,” kata Tumiran.

Menurut dia, agar produktivitas meningkat pihaknya melakukan inovasi dengan cara stek batang singkong dengan cara membuka batang tuna. Potensi hasil panen dengan metode demikian bisa mencapai 30-40 kilo per batang.

Sedang Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Bambang Wisnu Broto mengungkapkan, wilayahnya merupakan sentra penghasil ubi kayu di DIJ. Total luas tanam saat ini mencapai 45.816 hektare. “Mulai bulan kemarin sudah mulai panen. Bulan lalu petani memaneh singkong seluas 3.427 hektare. Sisanya akan dipanen bulan ini sehingga terjadi panen raya singkong,” katanya. (gun/pra)