RADAR JOGJA – Pembangunan kelok 18 diharapkan segera dilaksanakan. Sebab, jalur ini nantinya dapat menghubungkan Kabupaten Bantul dan Gunungkidul. Namun dananya terkena refocusing Covid-19, sehingga pembangunannya urung dilakukan tahun ini.

“Jalurnya akan sangat bermanfaat,” ujar Wakil Ketua Komisi C DPRD DIJ Gimmy Rusdin Sinaga di sela kunjungan kerja ke lokasi kelok 18, Parangtritis, Kretek, Bantul hingga Girijati, Purwosari, Gunungkidul, Rabu (5/8).

Rampungnya kelok 18 disebut politisi PDIP ini akan menunjang perekonomian dan pariwisata. Sebab, menghubungkan Cilacap (Jateng)-DIJ-Jawa Timur. “Kami doakan 2021 dari pelaksana Balai Besar bisa menuntaskan ini sesuai target yang ditentukan,” ucapnya.

Terpisah, Kasi Kesejahteraan Desa Parangtritis Elyas Suprapta menyebut, warga antusias dengan pembangunan kelok 18. Ini karena dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya. “Warga sudah banyak yang tanya kapan akan dibangun,” ungkapnya.

Elyas menyebut ada tiga dusun yang terdampak proyek kelok 18, yaitu Grogol VIII, IX, dan X. Pembebasan lahan sudah dilakukan sejak dua tahun lalu, baik berupa tanah, bangunan, dan pohon milik warga. Kendati masih ada yang bermukim di lahan itu, sebagian besar warga sudah pindah. Paling tidak sudah memiliki tanah pengganti. “Sudah tidak ada gejolak negatif,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Tim Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) DIJ Widarto Sutrisno mengatakan, seharusnya pembangunan kelok 18 dilakukan tahun ini. Tapi akibat adanya refocusing, dana pembangunannya teralih untuk penanganan Covid-19. “Tapi sudah siap dilelang,” sebutnya.

Kelok 18 direncanakan memiliki panjang 5,8 kilometer. Dengan lebar jalan sekitar tujuh meter dan memiliki dua jalur. Estimasi pembangunannya sekitar 24 bulan. Dana yang digunakan per kilometer sekitar Rp 25 miliar-Rp 30 miliar. “Teknis lain tidak ada masalah, hanya tinggal penganggaran saja,” tandasnya. (cr2/laz)