RADAR JOGJA – Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada Jogjakarta Prof Dr Cornelis Lay MA meninggal dunia dalam usia 61 tahun karena sakit Rabu pagi (5/8). Jenazah Cornelis Lay akan disemayamkan di Balairung UGM pukul 13.00 hari ini, sebelum dikebumikan di Pemakaman UGM, Sawitsari, Sleman.

JIHAN ARON VAHERA, Sleman, Radar Jogja

Kepergian almarhum menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya semasa hidup. Tak terkecuali civitas akademika UGM dan sejumlah tokoh-tokoh. Mereka hadir untuk melayat di rumah duka, Perum Cemara Blok F-13 Krodan RT 13/ RW 71 Maguwoharjo, Depok, Sleman, seperti Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Bahkan tampak kerangka bunga ucapan bela sungkawa dari Presiden Joko Widodo.

Rasa kehilangan juga dirasakan Dekan Fisipol UGM Prof Dr Erwan Agus Purwanto M,Si. Menurutnya, Cornelis Lay merupakan sosok yang egaliter. “Meskipun namaya dikenal di level nasional, dia tetap egaliter. Sebagai influencer bagi para politis, namun orangnya tetap rendah hati,” kata Erwan kepada Radar Jogja.

Selain itu, Conny, sapaan akrab Corbelis Lay, memiliki dedikasi yang sangat tinggi, baik saat mengajar maupun dalam hal lain. Menurutnya almarhum mempunyai harapan yang besar bagi anak-anak muda. “Dia selalu bersemangat dalam mengajar, dalam menyalurkan pemikiran-pemikiran nasionalistiknya,” ujarnya.

Mas Conny, lanjut Erwan, merupakan sosok yang sangat serius dan konsen saat menyampaikan mata kuliah. Dia selalu serius dan tidak bisa seadanya. “Dia memliki keyakinan, pokoknya para mahasiswa harus benar-benar mndapatkan pendidikan yang baik saat belajar di Fisipol UGM. Itu selalu yang ditanamkan beliau,” katanya.

Di kalangan teman-temannya, Cony juga dikenal sebagai seorang sahabat yang baik dan suka menolong. Sangat senang jika mengajarkan kepada para mahasiswanya untuk semangat dalam membuat karya tulis ilmiah atau riset. “Lima tahun terakhir ini beliau sangat konsen untuk menulis publikasi di jurnal internasional. Itu yang didorongkan untuk mahasiswanya, juga para dosen muda agar bisa seperti itu,” paparnya.

Erwan menyebut Cornelis Lay jika dimintai tolong untuk me-review atau memberikan masukan akan sangat senang. “Kalau untuk urusan riset akademik, beliau dengan senang hati untuk membantu,” ucapnya.

Selain nasionalismenya yang tinggi, Conny juga memiliki semangat untuk menghargai pluralisme. Yakni selalu memperlihatkan perhatiannya kepada teman-teman yang berbeda agama. Erwan menyebut, setiap hari besar agama Islam, dia tak lupa memberikan ucapan selamat dan sebagainnya.

“Jadi ingin membangun spirit kebersamaan agar Indonesia yang berbeda, itu bisa disatukan dengan saling menghargai satu sama lain. Itu yang beliau ajarkan kepada kami, termasuk menghargai karya anak-anak muda. Misalkan ada karya mahasiswa yang baru dipublikasi di jurnal internasional, nanti dia upload di grup-grup, kemudian diberikan ucapan selamat,” ungkapnya.

Conny yang dulu aktif sebagai penulis artikel di rubrik opini Jawa Pos ini juga dikenal sangat friendly dengan para mahasiswanya. Almarhum biasa mengajak ngobrol para mahasiswa di kantin. Terkadang juga ngopi. “Santai sekali beliau. Jadi dia tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang lain kepada para mahasiswanya,” tambah Erwan.

SELAMAT JALAN: Suasana rumah duka di Perum Cemara Blok F-13 Krodan RT 13/ RW 71, Maguwoharjo, Depok, Sleman, (5/8). Jenazah Cornelis Lay akan dikebumikan hari ini di Pemakaman UGM, Sawitsari, Sleman.( JIHAN ARON VAHERA/RADAR JOGJA )

Conny juga selalu mengajarkan etos kerja yang tinggi kepada mahasiswanya. Bahkan sering menceritakan perjuangannya saat dulu akan kuliah di Jogjakarta. Bagaimana dia harus menabung dulu di celengan bambu selama bertahun-tahun, kemudian setelah lulus SMA ia buka celengannya untuk pergi ke Jogja.
Begitu tiba di Jogja, Conny mencari pamannya yang ada di kota ini untuk menumpang hidup saat kuliah. “Spirit seperti itu yang membekas. Memberikan dorongan kepada anak muda agar tidak pantang menyerah. Saya kira tidak mudah untuk menggantikan sosok Mas Conny ini,” tutur Erwan.

Kepergian Cornelis Lay juga dirasakan salah seorang mahasiswanya, Obed Kresna Pratistha, 24. Obed menyebut almarhum merupakan mahaguru sekaligus teman diskusi yang sangat peduli terhadap para mahasiswanya. “Sering nanya kesehatan dan lain-lain, perhatian sekali,” katanya.

Di matanya, Conny sangat mencintai profesinya. Yakni cinta mengajar dan menulis. “Semangat itu yang sering kami rasakan di kelas. Dia sosok yang egaliter. Dari hal kecil saja dia tidak mau dipanggil dengan sebutan pak atau prof. Dan, Mas Conny-lah sapaan akrabnya dan digunakan oleh setiap mahasiswa dari beragam angkatan,” ungkap Obed.

Dikatakan, Mas Conny sangat terbuka untuk diajak diskusi. “Sangat friendly, tidak memikirkan dia dosen atau apa pun. Itu yang sangat membekas bagi saya. Saya berharap semangat Mas Conny, ideologi dan idealismenya akan diteruskan mahasiswanya,” harapnya. (laz)