RADAR JOGJA – UGM Jogjakarta kembali berduka. Salah satu putra terbaiknya, Cornelis Lay telah berpulang. Guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM ini meninggal dunia Rabu pagi (5/8). Tepatnya pukul 04.00 di Rumah Sakit Panti Rapih.

Kepala Humas dan Protokoler UGM Jogjakarta Iva Ariyani membenarkan informasi duka tersebut. Sang guru besar telah lama menderita penyakit jantung. Bahkan pria berusia 61 tahun ini pernah menjalani tindakan medis di Singapura medio 2015.

“Iya benar, kabar duka ini kami terima lagi tadi. Pak Cornelis sejak lama menderita penyakit jantung,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (5/8).

Penghormatan terakhir dilakukan di Balairung UGM sebelum pemakaman, Kamis (6/8). Jenazah Cornelis akan dimakamkan di Pemakaman Sawitsari UGM Kamis siang tepatnya 14.00 WIB. “Upacara penghormatan besok sebelum pemakaman di Balairung jam 13.00,” katanya.

Cornelis Lay dilahirkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 6 September 1959. Sosok ini dikenal sebagai politisi senior. Saat pemilu Presiden 2014, Cornelis berperan sebagai Ketua Tim Ahli dan Pakar Politik Tim Pemenangan dan Perumus Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Cornelis jugalah yang menyusun teks pidato kenegaraan Presiden Jokowi pada pelantikan 20 Oktober 2014 lalu. Walau tak masuk dalam struktur organisasi PDIP, Cornelis memiliki peran penting. Salah satunya sebagai orang kepercayaan dan penasihat politik bagi Megawati Soekarnoputri.

Suasana duka terlihat sejak pagi hari. Puluhan karangan bunga duka cita memadati kediaman Cornelis di Perumahan Cemara Maguwoharjo Depok Sleman. Mulai dari Menteri jajaran Kabinet Indonesia Maju hingga Presiden Joko Widodo. (dwi/ila)