RADAR JOGJA – Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo Joko Mursito menilai, pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Sebagai tantangan zaman, pengembangan wisata butuh konsep baru yang relevan di tengah masa pagebluk ini.

“Tidak ada satu pun yang bisa memberi jaminan kesehatan setelah berbulan-bulan sektor wisata tidak bisa bergerak, maka perlu konsep baru untuk mengatasi situasi ini. Kami punya istilah baru yang segera kami launching yakni sambang (menengok). Dengan konsep ini maka ada jaminan bagi pengelola dan wisatawan karena terkontrol,” katanya Selasa (4/8).

Pantauan di lapangan, sejumlah objek wisata di perbukitan Menoreh sudah melakukan uji coba dan simulasi menghadapi new normal. Kendati demikian tingkat kunjungan juga belum bisa pulih seperti yang diharapkan.

Menggandeng Dinas Kesehatan dan Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 di Kulonprogo, stigma negatif wisata di tengah masyarakat sedikit demi sedikit dikikis. Dengan harapan wisatawan tidak takut untuk datang dengan keluarga atau orang-orang terdekat.

Pengelola Objek Wisata Pule Payung di Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap, Eko Purwanto mengatakan, suasana kondusif di area sekitar objek wisata harus diciptakan. Pendampingan pihak-pihak terkait dibutuhkan agar masyarakat dan pengunjung merasa aman. “Uji coba dan simulasi sudah dilakukan,” ucapnya.

Menurutnya, Pule Payung terus beberbenah dengan tatanan norma baru. Spot-spot wisata harus disesuaikan dengan protokol kesehatan Covid-19. Sarana prasarana penunjang harus benar-benar aman dan dipastikan terbebas dari korona.

“Edukasi tidak hanya untuk pengunjung. Petugas yang bertugas juga dibekali pemahaman protokol kesehatan. Sarana prasarana seperti tempat cuci tangan ditambah, jaga jarak aman juga harus diperhatikan, jika kondisi normal pengunjung bisa dua ribu orang per hari. Saat new normal akan dibatasi 500-600 orang saja per hari,” ujarnya.

Objek Wisata Kalibiru juga menerapkan langkah senada. Objek wisata yang ada Dusun Kalibiru, Kalurahan Hargowilis sejauh ini menjadi destinasi wisata alternatif unggulan di Kulonprogo. Simulasi juga sudah dilakukan melibatkan seluruh pelaku wisata, termasuk pengelola jip, ojek hingga pemilik warung di kawasan Kalibiru.“Sarpras juga kami lengkapi, puluhan westafel kami pasang di setiap spot foto. Warung lengkap dengan alat pengukur suhu tubuh dan penyemprotan cairan disinfektan,” kata salah seorang pengelola objek wisata Kali Biru, Sudadi.

Menghindari kontak langsung antara pengunjung dan petugas loket, pengelola juga memasang sekat akrilik di tempat pembayaran tiket. “Uang juga akan ditempatkan di nampan khusus yang akan diambil petugas khusus , sehingga tidak ada sentuhan langsung,” ucapnya.

Mengikuti instruksi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), objek wisata Kalibiru sudah tutup per 27 Maret 2020. Hasil evaluasi, Kalibiru dinyatakan laik dibuka kembali saat new normal dengan beberapa catatan, salah satunya tempat cuci tangan perlu ditambah.

Masih di perbukitan Menoreh, objek wisata air terjun Kedung Pedut juga sudah menggelar simulasi. Simulasi bahkan dilakukan dengan penanganan pengunjung sakit di tempat wisata oleh petugas Kesehatan di Posko Kesehatan yang didirikan pengelola.

Kelurahan Jatimulyo, Girimulyo, cukup beruntung karena sudah memiliki peraturan desa yang sudah mengatur pengelolaan wisata No 13 tentang Pengelolaan Distribusi Destinasi Wisata. Sehingga untuk wisata bisa dimulai dengan beberapa tahapan, simulasi, sosialisasi, rekomendasi, dan uji coba terbatas.

Menurut Wakil Bupati Fajar Gegana yang juga Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kulonprogo, protokol kesehatan di Kedung Pedut sudah terpenuhi, mulai ruang isolasi, alat pelindung diri (APD), hingga tempat cuci tangan. “Protokol kesehatan tetap harus diterapkan,” ujarnya. (tom/laz)