RADAR JOGJA – Dengan tipu muslihat memesan mesin pencetak uang dari Australia, pelaku berinisial ZAS (42), KAA (26), dan JM (44) berniat memperdayai korbannya. Yakni dengan menjanjikan uang Rp 60 juta yang dapat digandakan menjadi Rp 700 juta.

Jajaran Satreskrim Polres Sleman berhasil menangkap para tersangka di sebuah hotel di Jalan Kaliurang Km 15. “Berkat laporan dari beberapa warga atas dugaan penipuan ini, kami langsung melakukan patroli cyber,” ungkap Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah kepada wartawan di Mapolres Sleman, Selasa (4/8).

Ketiga pelaku sudah berteman lama dan semuanya berstatus wiraswasta. Motif mereka ekonomi yakni mencari keuntungan. Ide muncul ketika mereka berkumpul dan tercetus begitu saja. Kemudian mempelajari penggandaan uang melalui YouTube. Dari situ mereka mulai beraksi untuk membuat dan menawarkan jasa abal-abal itu.

Deni menyebutkan, saat melakukan penelusuran polisi menyamar sebagai pendana atau korban untuk membuktikan pernyataan tersangka di media sosial. “Pelaku menggandakan uang dengan cara memasukkan kertas duslak yang telah dipotong seukuran uang Rp 100 ribu. Potongan kertas dimasukkan ke dalam mesin pengganda uang itu. Nanti akan keluar uang Rp100 ribu,” jelasnya.

Ternyata kertas duslak itu tidak benar dicetak. Kertas duslak jatuh ke bawah dan uang yang keluar memang sudah disiapkan, sehingga seolah-olah kertas tadi berubah menjadi uang. Padahal uang asli itu telah disiapkan di dalam mesin dan jika tombol mesin dipencet akan keluar.

Saat dilakukan penyelidikan, ternyata mesin tersebut adalah mesin rakitan buatan mereka sendiri. Yang di dalamnya berisi mesin cetak. “Mereka hanya memodifikasi printer yang dilapisi dengan baja hitam. Ini untuk lebih meyakinkan korban,” tambahnya.

Alat itu mereka pesan di tukang mekanik dengan dalih untuk salah satu alat karaoke. Alat itu memiliki panjang sekitar dua meter dengan lebar 50 cm. Mereka mengaku biaya untuk merakit alat Rp 600 ribu.

Pelaku menarik para korban dengan mempromosikan jasa mereka melalui grup-grup di media sosial. Yang disebarkan adalah video yang memperlihatkan cara kerja mesin itu. Dan telah mereka lakukan sejak tiga bulan lalu. “Sampai saat ini masih belum ada korban. Namun kami akan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut,” katanya.

Akibat perbuatannya ini mereka dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dengan ancaman hukuman paling lama empat tahun penjara. Barang bukti yang disita satu alat pengganda uang, 64 lembar kertas duslak, 17 lembar kertas duslak yang telah dipotong seukuran uang asli, dan tujuh lembar uang pecahan Rp 100 ribu yang disebut hasil pencetakan uang. (cr1/laz)