RADAR JOGJA – Kepergian Cornelis Lay turut menjadi duka bagi seorang Ganjar Pranowo. Gubernur Jawa Tengah ini menyempatkan waktu untuk melayat di tengah kesibukannya. Baginya sosok Cornelis adalah senior, sahabat hingga guru dalam berbagai hal.

Orang nomor 1 di Jawa Tengah ini mengaku sangat dekat dengan Cornelis. Komunikasi terakhir di antara mereka adalah ucapan selamat hari raya Idul Adha yang dikirimkan oleh sang Guru Besar Fisipol UGM. Tersemat pula sebuah foto yang memperlihatkan otot tangan.

“Sambil tangan begini (pose memperlihatkan otot tangan kanan). Itu WhatsApp terakgir ke saya. Tidak tahu ternyata kondisinya saat itu sedang di rumah sakit,” jelasnya ditemui usai melayat, Rabu (5/8).

Bukan tanpa alasan Ganjar menjadikan Cornelis sebagai guru. Baginya sosok inilah yang benar-benar mendorong untuk terjun dalam dunia politik. Termasuk menekuni keaktifan di PDI Perjuangan.

Perkenalan keduanya berawal dari keaktifan di badan Diklat PDI Perjuangan. Tepatnya medio 2003 saat Ganjar masih merintis karir berpolitiknya. Perbincangan melalui sambungan telepon mengawali persahabatan hingga saat ini.

“Saya itu enggak kenal awanya. Tiba-tiba seseorang menelpon bahwa PDI Perjuangan akan membuat badan Diklat dan mengajak saya bergabung dan berkeliling. Itu tahun 2003,” kenangnya.

Ganjar tak menampik pada awalnya tak terlalu aktif dalam kepartaian. Ajakan dari Cornelis ini membuatnya untuk peduli. Hingga akhirnya Ganjar memutuskan untuk ikut dalam kancah perpolitikan.

“Itu awal seseorang menelpon dan saya gabung intens dengan PDIP kemudian mendorong agar terjun ke politik. Dia sahabat da guru saya. Hingga akhirnya dua periode di dewan lalu dua periode haid gubernur (Jawa Tengah),” katanya.

Setelah menjadi Gubernur Jawa Tengah, persahabatan tetap terjalin. Hanya saja kedekatan ini tak membuat sosok Cornelis terlena. Beragam catatan kritis dan kritik kerap dilayangkan. Tak lupa pula sebuah solusi, saran alternatif hingga informasi.

Sayangnya kondisi pandemi Covid-19 merenggangkan komunikasi. Pertemuan secara fisik dan pertukaran ide secara langsung menjadi berkurang. Sebab berkunjung ke rumah Cornelis sudah menjadi hal wajib ketika datang ke Jogjakarta.

“Beliau itu tetap beri catatan kritis tali juga beserta solusinya. Berharap semangatnya dapat memberikan inspirasi. Sosok pemikir yang memiliki daya intelektual tinggi,” ujarnya.

Tak hanya bagi para petinggi politik, sosok Cornelis juga dikenal dekat dengan para mahasiswanya. Salah satunya adalah Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM angkatan 2018 Obed Kresna Widya Pratisha. Obed, sapaannya, mengenal Cornelis sebagai sosok yang egaliter.

Walau telah berstatus guru besar, namun Cornelis tak pernah memandang strata. Kedekatan inilah yang membuat para mahasiswa merasa kehilangan. Komunikasi bisa terjalin intens. Tak hanya sebagai dosen dan mahasiswa tapi layaknya seorang sahabat.

“Mahaguru dan bisa disebut teman diskusi. Sangat peduli terhadap kami (mahasiswa). Egaliter dari hal sederhana, tidak mau dipanggil pak atau prof, hanya mau mas Cony. Sangat terbuka diajak diskusi tidak saklek,” kenangnya.  

Baginya Cornelis memiliki hasrat tinggi dalam dunia pendidikan. Suasana mengajar di kelas seakan hidup. Ruang diskusi mampu terbentuk antara dosen dan mahasiswa. Disatu sisi tak menutup pintu atas ide-ide segar dari mahasiswanya.

“Apa yang dicintai itu mengajar dan terasa banget di kelas. Sosok dosen yang memahami betul apa yang dikatakan. Sangat dihormati oleh teman-teman. Semangat mas Cony sangat mengagumi Soekarno,” katanya. (dwi/tif)