RADAR JOGJA – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo turut melayat ke kediaman Cornelis Lay di Perumahan Cemara Maguwoharjo Depok Sleman, Rabu (5/8). Rombongan ini datang sekitar pukul 12.57. Selang beberapa menit rombongan pengantar jenazah sang guru besar tiba bersama keluarga.

Tjahjo pula lah yang menyambut kedatangan rombongan jenazah sang guru besar Fisipol UGM setibanya di rumah duka. Dia sempat berbincang dengan istri Cornelis, Jeanne Cynthia Lay.

Baginya, sosok Cornelis memiliki arti penting. Dikenal sebagai sosok bersahaja namun memiliki pemikiran yang cemerlang. Cornelis juga termasuk salah seorang tokoh dibalik suksesnya karir politik Presiden Joko Widodo. 

“Sudah seperti kakak saya senior saya. Sejak saya jadi sekjen partai (PDIP) kemudian tim sukses pak Jokowi untuk gubernur DKI sampai Pilpres, dia selalu mendampingi saya,” jelasnya ditemui usai melayat, Rabu (5/8).

Cornelis, lanjutnya, memiliki pemikiran yang segar. Walau enggan masuk dalam struktur partai namun perannya tetap besar. Di satu sisi Cornelis juga tak segan memberikan kritik membangun. Dengan tujuan kemaslahatan bersama.

Inilah yang membuat sosok Cornlies sangat disegani. Bahkan bagi seorang Joko Widodo sekalipun. Meski dekat dengan partai, namun Cornelis berdiri sebagai sosok yang independent.

“Konsisten dalam dunia intelektual walaupun dekat dengan kekuasaan dekat dengan partai tetapi dia tidak ingin mengabdikan dirinya. Dia tetap konsisten sampai gelar profesor,” katanya.

Tjahjo juga mengetahui riwayat sakit Cornelis. Setidaknya sudah lima tahun sang guru menderita sakit. Walau begitu Tjahjo kerap mendampingi, termasuk menjenguk ke Singapura saat menjalani pengobatan.

Selama pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) komunikasi tetap terjalin melalui aplikasi WhatsApp. Saling bertanya soal kondisi kesehatan terkini higga bidang politik. Terbaru terkait kelembagaan di pemerintahan, yakni efisiensi birokrasi demi kenyamanan pelayanan publik. Tjahjo sempat menunjukan percakapan terakhirnya dengan Cornelis melalui WhatsApp.

“Saya ada rencana membubarkan lembaga-lembaga. Sudah 18 dibubarkan saya mau nambah 10 lembaga lagi yang (wacana) kedua. Dia setuju dengan (pemangkasan) rantai birokrasi,” ujarnya.

Dalam percakapan inipula Cornelis mengutarakan alasannya. Menurutnya rantai birokrasi akan menghambat pengambilan keputusan secara politik. Terlebih bagi seorang presiden yang wajib membuat tata kelola pemerintahan lebih demokratis. 

Peran Cornelis sejatinya telah dimulai sejak era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Berupa penguatan dan pemahaman atas makna demokrasi. Ide-ide dalam percakapan inilah yang kerap menjadi pertimbangan dalam setiap keputusan.

“Kita mendoakan anak dan teman-temannya untuk meneruskan pemikiran beliau. Bahwa antara ilmu, amal dan kebajikan menjadi satu bagian ke depan. Seseorang yang amat memahami betul pemikiran bung Karno. Seorang idealis yang ingin mengabdikan keilmuannya,” katanya. (dwi/tif)