RADAR JOGJA – Camat Depok Abu Bakar meminta agar pendatang di wilayahnya mematuh protokol kedatangan. Setibanya di wilayah Depok langsung melapor kepada RT/RW setempat. Melampirkan riwayat perjalanan dan juga surat sehat dari wilayah asal.

Kebijakan ini sebagai wujud antisipasi penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Terutama dari kalangan akademisi dan pelaku usaha di Kecamatan Depok. Sebagai catatan, setidaknya ada 150 ribu mahasiswa pendatang yang berdomisili di wilayah ini.

“Beberapa kampus mulai tatap muka September dan Oktober. Sekarang memang sudah berdatangan, tapi kebanyakan dari Jateng dan Jabar. Ini yang harus jadi perhatian,” jelasnya ditemui usai melayat di kediaman Cornelis Lay, Perumahan Cemara, Rabu (5/8).

Abu mengakui tak mudah melakukan pendataan kepada 150 ribu mahasiswa pendatang. Peran ini harus dilakukan para induk semang maupun pengurus RT dan RW. Mantan Camat Gamping ini turut membeberkan pendataan pendatang. Hingga saat ini jajarannya baru menerima 1.225 data pendatang di Kecamatan Depok. Data ini merupakan gabungan antara mahasiswa pendatang maupun pelaku usaha. 

“Angka ini paling tinggi se-Sleman. Dalam pendataan itu beberapa ada yang reaktif (rapid tes). Lanjut swab dan hasilnya positif. Salah satunya mahasiswa pendatang asal Kutai di Condongcatur,” katanya.

Pihaknya juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar tak ada penolakan kepada pendatang yang masuk ke Kecamatan Depok. Tentunya dengan syarat, pendatang wajib menjalankan protokol Covid-19 secara ketat.

“Jangan smapai ada penolakan dari warga. Ingin lanjut kuliah kalau lupa bawa hasil rapid ya rapid disini saja. Lalu isolasi mandiri di kamar kos dulu,” pesannya.

Berdasarkan data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemkab Sleman, Kecamatan Depok masuk dalam zona oranye. Artinya ada lebih dari satu desa di Kecamatan Depok yang terdapat kasus positif Covid-19. Zona ini berada satu level dibawah zona merah.

Fakta ini membuat jajarannya semakin ketat dalam menerapkan protokol Covid-19. Terutama di beberapa kantor atau fasilitas pelayanan publik. Abu tak ingin mobilisasi tinggi berimbas pada meningkatnya kasus positif Covid-19 di wilayahnya.

“Dinamika tinggi apalagi setelah  adaptasi baru. Tempat ibadah sudah nyaman tapi sekarang larinya ke perkantoran. Ada mobilisasi tinggi yang memiliki potensi tinggi pula,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini Abu juga memastikan pelayanan Puskesmas Depok I telah normal kembali. Tentunya dengan catatan pelaksanaan operasional secara terbatas. Pendukung operasional adalah tenaga kesehatan yang dinyatakan sehat dan tak memiliki kontak erat dengan sepuluh pasien Covid-19.

Diketahui bahwa pusat layanan kesehatan ini sempat tutup sejak Sabtu (1/8). Pertimbangannya adalah tindakan disinfeksi ke seluruh ruangan Puskemas. Hal ini dilakukan setelah munculnya 10 kasus positif Covid-19 dari Puskesmas Depok I.

“Kedepan kami juga mengusulkan untuk memindahkan lokasinya. Tempat saat ini kurang memadai untuk cakupan pelayanan di Maguwoharjo.  Akan dicarikan tempat yang lebih luas dan ideal untuk pelayanan kesehatan,” katanya. (dwi/tif)