RADAR JOGJA – Puskesmas di Gunungkidul akan menjadi lokasi penampungan pasien Covid-19. Alternatif pusat kesehatan masyarakat tingkat kecamatan tersebut dipilih karena kontrak sewa Wisma Wanagama dengan Universitas Gajah Mada (UGM) telah berakhir.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, sejak awal penggunaan Wisma Wanagama diproyeksikan hanya sebulan, namun perkembangannya sempat diperpanjang. “MOU pertama 37 hari selesai di 30 Juni,kemudian muncul kebijakan diperpanjang hingga 31 Juli,” kata Edy saat dihubungi Senin (3/8).

Sekarang, Pemkab Gunungkidul diberikan waktu selama sepekan untuk masa transisi. Selama ini biaya sewa Wisma Wanagama pada bulan pertama sekitar Rp 103 juta, dan bulan kedua mendapatkan diskon sekitar Rp 52 juta. “Bulan depan pihak UGM akan menggunakan wisma yang terletak di tengah hutan Wanagama itu untuk kegiatan internal,” ujarnya.

Berakaitan dengan pasien reaktif, dia mengaku sedang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinas) Kabupaten Gunungkidul guna mencari lokasi alternatif. Informasi awal, selain RSUD Saptosari, dinkes juga menyiapkan puskesmas. “Kemungkinan dalam minggu ini ditentukan lokasi penggantinya,” ucap Edy.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawati mengakui hal tersebut. Dia masih mencari puskesmas yang mampu menampung pasien rapid test reaktif. Hingga kemarin, Wisma Wanagama dihuni 7 pasien. “Wanagama mau dipakai oleh UGM, kami sedang menyiapkan lokasi alternatif yakni, puskesmas,” kata Dewi.

Untuk diketahui, pada pertengahan Mei, Gugus Tugas Pengendalian dan Percepatan Covid-19 Kabupaten Gunungkidul berupaya memutus mata rantai penyebaran virus korona. Ribuan warga menjalani rapid tes. Bagi yang reaktif, disediakan lokasi karantina Hutan Wanagama, Playen.

Tempat karantina tersebut berada di hutan penelitian Wanagama, tepatnya wilayah Desa Banaran, Kecamatan Playen. Lokasinya di tengah hutan sehingga jauh dari pemukiman warga. Memanfaatkan wisma yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta sejak 1964, memiliki sejumlah kamar atau paviliun.

Data terbaru persebaran kasus Covid-19 hingga kemarin secara akumulatif ada 109 kasus terkonfirmasi positif, di mana 26 antaranya masih dirawat dan 3 dilaporkan meninggal dunia. (gun/bah)