RADAR JOGJA – Keluarga dan masyarakat memiliki peranan penting dalam kesembuhan ODGJ. Sebab, pengobatannya rutin dan butuh pendampingan. Institusi yang paling dekat dengan ODGJ adalah keluarga. Tapi, ODGJ pun harus mampu diterima oleh masyarakatnya.

Kabid Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Bantul Tunik Wusri Arliani menegaskan, jangan sampai keluarga ODGJ lepas tangan. Apalagi menganggap penanganan ODGJ adalah kewajiban dari Dinsos P3A. “Harapan kami, pendampingan utama ada di keluarga,” sebutnya saat dihubungi Radar Jogja Senin (3/8).

DEDIKASI: Rinno Si Badut Boneka Mampang ketika menyuapi lansia yang juga pengidap gangguan jiwa di Panti Hafara, (3/8).( SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )

Penerimaan kembali ODGJ oleh masyarakat adalah tanggung jawab semua pihak. Kata Tunik, masyarakat masih butuh edukasi untuk paham, bahwa ODGJ adalah bagian dari masyarakat. Bahkan ODGJ kerap dipandang sebagai orang terbuang. “Ketika sudah sembuh, dia berhak bersosialisasi di masyarakat,” ucapnya.

Pendampingan keluarga dan masyarakat dapat membantu kesembuhan ODGJ. Dan bila tidak terjadi, ODGJ yang telah dinyatakan sembuh oleh rumah sakit, justru dapat kembali mengalami ganguan jiwa.

Sementara kewenangan penanganan Dinsos P3A hanya sebatas membantu ODGJ mendapatkan pelayanan kesehatan. Umumnya petugas akan membantu ODGJ untuk dapat mengakses jaminan sosial. Agar ODGJ bisa mendapat fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah.

Maksimal Dinsos P3A dapat menghubungkan ODGJ yang sudah dapat mengendalikan diri untuk menerima pelatihan. Supaya ODGJ dapat secara mandiri menghidupi dirinya sendiri. Itu pun hanya dapat dilakukan oleh petugas jika ODGJ itu terbukti sebagai warga Bantul.

Sementara itu, pendiri Panti Hafara di Trimulyo, Jetis, Bantul, Chabib Wibowo berusaha menciptakan suasana kekeluargaan di pantinya. Saat ini terdapat 94 ODGJ yang tinggal di panti yang berdiri sejak 2005 itu. “Mereka harus dimanusiakan secara manusiawi,” sebut pria yang akrab disapa Babe.

Menurutnya, tingkat stres yang tinggi di Bantul diakibatkan masih banyaknya masyarakat yang menjadikan materi sebagai ukuran. Padahal pendapatannya rendah. “Akhirnya jadi stres. Stres ini berpotensi pada risiko gangguan jiwa,” katanya.

Untuk itu, Babe menggunakan cara art therapy sebagai teknik penyembuhan ODGJ di pantinya. Art therapy yang dilakukan berupa pembuatan batik jumputan, pemutaran gending Jawa saat istirahat, dan salah satunya menyuguhkan penampilan Rinno Si Badut Boneka Mampang.

Terapi yang diberikan itu terbukti ampuh. Sudah ada ODGJ yang lulus dari Panti Hafara. Bahkan mampu berjualan batik jumputan secara online. (cr2/laz)