RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten Sleman berencana membeli alat penguji sampel swab Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pertimbangannya adalah optimalisasi pengujian swab yang berlangsung massif. Selain itu juga mempermudah pemetaan persebaran Covid-19 di Sleman.

Pertimbangan pembelian alat ini untuk efektifitas laboratorium penguji. Diketahui bahwa beberapa laboratorium penguji sempat menolak sampel swab dari Sleman. Penyebabnya adalah terbatasnya fasilitas dan sumber daya manusia (SDM) penguji spesimen.

“Harapannya uji swab jadi lebih cepat. Swab lagi, hasilnya bisa diketahui siang atau sore. Sehingga penanganan lebih cepat,” jelas Bupati Sleman Sri Purnomo, ditemui di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman, Seni. (3/8).

Kepala Dinas Kesehatan Joko Hastaryo berharap keberadaan alat penguji mampu mengurai masalah antrian uji spesimen. Terlebih kapasitas alat ini mampu menguji 200 specimen setiap harinya. Sehingga pelacakan kasus menjadi lebih cepat dan efektif.

Alat seharga Rp 750 juta ini akan diletakkan di Laboratorium Kesehatan Daerah milik Pemkab Sleman. Terkait kedatangan alat, Joko menuturkan pertengahan hingga akhir Agustus. Sementara waktu pemanfaatan dikhususkan specimen yang berasal dari Sleman.

“Jumat dan Sabtu terjadi lonjakan itu bukan kasus hari itu tapi kasus sebelumnya. Baru keluar karena (uji specimen) antri. Ini mengakibatkan keterlambatan seminggu hingga 10 hari,” katanya.

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini menuturkan idealnya uji swab berlangsung satu hari. Apabila terlalu lama maka pelacakan kasus menjadi tak efektif. Imbasnya potensi penularan terhadap kontak erat semakin tinggi.

Gugus Tugas Covid-19 Sleman sendiri menargetkan 5.000 uji swab hingga akhir Agustus. Berdasarkan data terbaru baru sekitar 2.100 spesimen terkumpul. Mayoritas adalah tenaga kesehatan Puskesmas dan tenaga pengajar di Pondok Pesantren.

“Berharap alat langsung bisa digunakan untuk pengujian sampel. Kalau terlalu lama bisa kemana-mana virusnya. Ini saja ada beberapa (spesimen) yang belum keluar. Ada (laboratorium) yang baru menerima sampel tanggal 6 (Agustus),” ujarnya.

Joko turut menjabarkan detil kasus Covid-19 di Sleman. Berdasarkan data dari total kasus sebanyak 88,9 persen adalah pasien positif asimtomatik. Hingga saat ini ada 133 pasien 133 dirawat di rumah sakit.

Dari data tersebut, 8 pasien memiliki gejala berat. Kedelapannya berawal dari pasien berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Sementara untuk gejala ringan mencapai 7 pasien.

“Dari angka ini, positif rate sudah 2. Atau bisa dikatakan tingkat penularan sedang. Kalau 2,5 itu sudah kategori berat dan kategori rendah dibawah 1,5,” katanya.(dwi/tuf)