RADAR JOGJA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geologi (BMKG) DIJ menyebutkan, musim kemarau di DIJ kali ini cenderung basah dan belum berpotensi El Nino. Musim kemarau diprediksi akan berlangsung hingga September mendatang.“Potensi kemarau wilayah DIJ umumnya sampai dengan September. Namun ada sebagian wilayah DIJ sampai awal Oktober masih kemarau,” jelas Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIJ Reni Kraningtyas kepada Radar Jogja (31/7).

Kendati demikian, Reni menyebutkan kemarau kali ini belum ada indikasi El Nino untuk wilayah DIJ. “Musim kemarau cenderung basah dibandingkan 2019 lalu. Karena kita masih sering merasakan terjadi hujan pada musim kemarau,” tambahnya.

Dikatakan, BMKG Stasiun Klimatologi Jogjakarta akan meemberikan warning kekeringan. Jika suatu wilayah sudah tidak terjadi hujan. “Warning kekeringan waspada jika HTH (hari tanpa hujan) yang terjadi sekitar 21 sampai 30 hari, siaga HTH yaitu 31 sampai 60 hari, awas jika HTH yaitu lebih dari 60 hari,” paparnya.

Reni menjelaskan, suhu udara terasa lebih dingin saat kemarau penyebabnya karena pada saat musim kemarau, angin timuran (Muson Australia) sedang bertiup menuju wilayah Indonesia. “Tak terkecuali wilayah DIJ. Angin timuran ini sifatnya kering dan tidak banyak membawa massa uap air. Sehingga sulit untuk terbentuk awan-awan hujan,” jelasnya.

Dengan minimnya jumlah awal di atmosfir, maka akan mempengaruhi suhu udara di bumi. Dikatakan, keberadaan awan-awan atmosfir tersebut berfungsi menjaga kelembaban bumi dengan menghambat pelepasan panas ke atmosfir.
“Pelepasan energi panas ini yang membuat suhu permukaan bumi dengan musim kemarau menjadi lebih dingin daripada musim penghujan,” ungkap Reni.

Dikatakan, umumnya sampai dengan Agustus masih akan sering terjadi udara dingin. “Untuk saat ini suhu udara dingin atau suhu udara minimum dalam kisaran 18 derajat Celcius,” lanjutnya.

Walaupun kemarau kali ini cenderung basah, Reni menyampaikan masih tetap ada potensi kekeringan terjadi di DIJ. Dia memperkirakan puncak kemarau akan terjadi pada Agustus.

“Kami mengimbau untuk para petani bijak menentukan masa tanam dan pola tanam. Sebaiknya pada saat ini menanam palawija, kecuali jika air irigasi cukup, bisa menanam padi,” tandasnya. (cr1/laz)