RADAR JOGJA – Gito Gati sendiri merupakan dua saudara kembar kelahiran 1933 yang menekuni dunia seni ketoprak dan pewayangan sejak kecil. Keduanya besar di sebuah sanggar seni bernama Paguyuban Seni Bagian Yogya Utara atau disingkat PS BAYU. Sanggar ini beralamat di Dusun Pajangan, Pandowoharjo, Sleman, dan masih eksis sampai sekarang.

Berkat peran keduanya, bahkan PS BAYU pernah menjadi kelompok seniman yang cukup kondang di DIJ dan Jateng serta kerab menggelar pentas ketoprak dan wayang di berbagai kota.

Kala Gito Gati berpentas, Gito lebih sering memerankan tokoh yang suka bercanda dan bertindak seenaknya, sehingga kerab mengocok perut para penontonnya. Lalu Gati biasanya punya peran yang agak serius dan lebih menghayati tokoh yang diperankannya, untuk mengimbangi peran Gito.

Anak ketiga Sugati, Bayu Shidiq Supriadi atau akrab disapa Bayu Sugati menerangkan, sosok ayah dan pak dhe-nya memang merupakan pasangan seniman ketoprak yang cukup terkenal hingga sekitar tahun 1990-an. Penampilan keduanya sangat dinanti para penggemarnya kala itu. Bahkan pernah ditayangkan di beberapa stasiun televisi.

Bayu yang juga merupakan pimpinan PS BAYU mengatakan, sosok Gito Gati menjadi cukup terkenal karena penampilannya yang jenaka, bahkan tak jarang seniman kembar ini juga dikenal sebagai pelawak. Uniknya, Gito Gati sering mengeluarkan lawakan secara spontan dan penuh improvisasi tanpa naskah. Sehingga secara tiba-tiba memancing gelak tawa para penontonnya. ”Biasanya, Bapak dan Pak Gito itu sering memberikan dagelan secara tiba-tiba dan tanpa naskah. Sehingga pada tiap pementasan selalu terasa meriah dan benar-benar dinanti oleh penonton pada saat itu,” ujarnya.

Karena ketoprak Gito Gati kala itu benar-benar diminati dan banyak sekali permintaan pentas, Bayu mengatakan pernah ada kejadian unik saat pementasan seniman kembar itu. Dimana dalam dua panggung berbeda keduanya bergantian memerankan peran masing-masing. Dimana Gito harus menjadi Gati, begitu pula sebaliknya. Siasat yang mereka gunakan adalah membuat alur cerita yang salah satunya harus mati.

Memiliki muka dan perawakan yang kembar identik membuat para penonton tidak sadar dengan siasat Gito Gati kala itu. Dua pentas tetap berjalan lancar dengan dua tokoh, meski keduanya berpisah satu sama lain. ”Jadi, di satu panggung ada dua tokoh namun hanya diperankan satu orang. Uniknya, para penonton saat itu tahunya bahwa yang berpentas tetap Gito dan Gati,” terannya.
Gito terlebih dahulu meninggal pada tahun 1996. Sementara Gati menyusul 13 tahun kemudian pada tanggal 18 Oktober 2009, karena didiagnosa menderita penyakit stroke sejak tahun 2001. (din/er)