RADAR JOGJA – Kerja keras sudah dilakukan sejak Majiya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Karena merupakan anak seorang janda, setiap pulang sekolah dia harus membantu ibunya mengurus ternak dan sawah. Setelah melanjutkan pendidikannya di bangku SMP, dia pun harus berjalan kaki 5 kilometer setiap hari agar bisa bersekolah. Majiya baru memiliki sepeda setelah duduk di sekolah tingkat atas.
Lulus dari SMEA Negeri Wates tahun 1987, Majiya bertekad kuat agar bisa melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi. Namun, karena lahir dari keluarga sederhana tentu dia harus berkerja keras agar hal itu bisa terwujud. Bahkan, Majiya pernah bekerja sebagai seorang kuli bangunan untuk mencari biaya kuliah. Saat itu, dia hanya diupah Rp 13 ribu seminggu sekali.
Terkadang Majiya juga mencari kayu bakar dan membantu ibunya di sawah agar bisa mendapat uang tambahan. Usahanya untuk agar bisa kuliah juga dia lakukan dengan mengurus ternak, namun pernah suatu saat sapi milik ibunya yang tengah bunting mati karena tertabrak truk. Padahal waktu itu sapi merupakan harta benda yang paling berharga, khususnya bagi orang desa. ”Tertabrak truk di depan rumah, saya benar-benar bingung kala itu dan hanya bisa pasrah. Namun justru pengalaman itu yang membuat saya semakin semangat dalam bekerja keras dan dengan ikhlas,” katanya kepada Radar Jogja.
Sekitar 1988 Majiya diangkat sebagai staf tata usaha (TU) di PDAM Tirtamarta Jogjakarta. Dia pun akhirnya bisa mewujudkan impiannya untuk berkuliah, dia berhasil menyelesaikan kuliah hingga tingkat S2 di Universitas Janabadra dengan mengambil jurusan ekonomi.
Majiya juga berhasil mewujudkan keinginannya semasa kuliah untuk menjadi seorang dosen. Dia mengajar jurusan ekonomi di kampusnya sendiri.
Kerja keras selama sembilan belas tahun di PDAM Tirtamarta berbuah manis dalam karier Majiya. Tahun 2001 dia diangkat sebagai sekretaris direksi, lalu tahun 2006 dia dipercaya sebagai kepala seksi umum. Di tahun 2010, Majiya diangkat sebagai kepala seksi kepegawaian sekaligus Plt Kepala Satuan Pengawas Interen lalu resmi dilantik tahun 2011.
Delapan tahun berikutnya, awal 2019 Majiya diberi tanggung jawab sebagai Kepala Bagian Umum. Kemudian di pertengahan tahun 2019 dia dipercaya untuk mengemban jabatan Direktur Bidang Umum. Tertanggal 11 Mei 2020, oleh wali Kota Jogja, dia diberi amanah sebagai Plt Direktur Utama (Dirut) dan pada Kamis (30/7), dia resmi dilantik sebagai Dirut PDAM Tirtamarta Kota Jogja.
Mengemban jabatan penting di salah satu instansi milik pemerintah Kota Jogja memang hal yang luar biasa bagi Majiya. Apalagi, dulunya dia hanya seorang anak petani yang berasal dari desa. Untuk sekolah pun juga sulit. Namun, dengan semangat dan kerja keras kini Majiya bisa mewujudkan apa yang dia inginkan dan bermanfaat bagi banyak orang.
”Motto hidup saya hanya semangat dan bekerja dengan ikhlas. Insya Allah bisa bermanfaat bagi saya sendiri orang lain, bangsa dan negara,” ujarnya.
Biyung (Ibu) Sosok Penting Bagi Majiya
Ibu merupakan sosok penting dalam kesusksesan karir Majiya. Diakuinya, tanpa doa restu dan dukungan seorang ibu atau akrab ia sebut biyung dia tak akan pernah bisa menjadi dirinya yang sekarang.
Majiya menceritakan, dia merupakan anak tunggal dari ibunya yang bernama Sami. Ibunya sudah menjadi seorang janda sejak dia kecil dan kini genap berusia 80 tahun. Perjuangan dan kerja keras seorang ibu dalam mewujudkan pendidikannya hingga tingkat menengah atas adalah salah satu hal yang tidak pernah dilupakan Majiya.
Doa restu dan dukungan seorang ibu juga punya peran penting dalam hidup Majiya. Setiap dihadapkan sesuatu, Majiya selalu meminta restu kepada ibunya agar selalu dimudahkan jalannya. ”Biyung saya bekerja sekuat tenaga untuk membiayai saya sekolah sampai SMEA, beliau juga terus memberi dorongan kepada saya. Kasih sayang biyung kepada saya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” ujar Majiya.
Majiya melanjutkan, ibunya juga selalu berpesan kepadanya agar bisa memanfaatkan hidup yang singkat ini dengan sebaik mungkin. Pesan itu menjadi cambuk semangat bagi Majiya sampai saat ini, dia selalu berusaha bekerja semaksimal mungkin. ”Saya juga meminta doa restu kepada ibu agar apa yang saya kerjakan bisa bermanfaat bagi orang lain. Sosok ibu adalah yang paling luar biasa bagi saya,” terangnya.
Sisi lain, 13 Tahun Nglaju Pakai Sepeda Dari Jogja – Wates.
Saat masih menjabat sebagai Staff TU PDAM Tirtamarta , Majiya menyimpan kenangan yang tak pernah dia lupakan. Selama tiga belas tahun dia bersepeda dari rumahnya di Dusun Milir, Desa Kedungsari, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo menuju tempat kerjanya. Jarak yang dia tempuh untuk berangkat dan pulang terhitung sampai 60 kilometer.
Adapun sepeda yang dia gunakan kala itu adalah jenis sepeda balap, dibelikan ibunya saat Majiya masih duduk di bangku kelas dua SMEA. Menurutnya. sepeda balap miliknya merupakan salah satu benda terpenting dalam hidupnya, serta sebagai saksi bisu dalam perkembangan karirnya.
Dia menyatakan, beberapa kali sepedanya pernah ditawar karena terkesan antik di jaman sekarang. Namun tak pernah dia berikan, karena sepeda pemberian ibunya memiliki sejarah yang begitu amat penting. ”Beberapa kali ada yang nawar sepeda balap saya tapi tak pernah saya lepas, sekarang cuma saya simpan saja di rumah untuk kenang-kenangan,” ujarnya.
Majiya mengenang, saat masih bersepeda dari rumah ke kantor dia harus rela bangun pagi-pagi sekali. Seusai waktu subuh dia harus siap berangkat kerja. Lalu pulang pukul 15.30 agar sebelum Maghrib sampai rumah. (din/er)