RADAR JOGJA – Mengalir di Jogjakarta lebih seabad. Air yang dialirkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtamarta mampu menghidupi.

Sekitar seabad silam, tepatnya 1918, perusahaan air minum pertama berdiri di Jogjakarta. Perusahaan yang didirikan ketika zaman kolonial Belanda tersebut yakni Hoogdrink Water Leiding Bedrijf. Kini namanya menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtamarta.

Selama 102 tahun, air minum sudah dialirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jogjakarta. Air minum dinikmati puluhan ribu pelanggan.
”Perusahaan air minum pertama dibangun Belanda pada 1918 itu memanfaatkan sumber dari air pegunungan di Karanggayam, Kebumen, Jawa Tengah. Saat itu debit airnya hanya 20 liter per detik,” jelas Direktur Utama PDAM Tirtamarta Jogjakarta Majiya (27/7).

Pada periode 1923-1925, bangsa kolonial kembali menambah debit sumber air dengan membangun aliran sumber air di Umbul Lanang di wilayah Klaten dan Kali Kuning di lereng Gunung Merapi wilayah Jogjakarta. Dari dua sumber air tersebut, Belanda berhasil menambah debit air menjadi 100 liter per detik. Lalu, muncul Hoogdrink Water Leiding Bedrijf.

Sekitar 1930, sumber air dari Umbul Lanang sempat tak dapat dimanfaatkan. Sumber air itu terdampak bencana letusan Gunung Merapi. Rehabilitasi yang dilakukan selesai sekitar enam tahun kemudian.

Kolonial Belanda kembali menambah debit air pada periode 1939-1941. Merela membangun sumur-sumur besi sehingga debit menjadi 55 liter per detik.
“Saat masa penjajahan, perusahaan Hoogdrink Water Leiding Bedrijf hanya merupakan perusahaan yang memasok air minum untuk kebutuhan bangsa Belanda dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat,” terang Majiya.

Memasuki 1942 pada masa penjajahan Jepang terjadi kesepakatan negara penjajah dengan Kasultanan Jogjakarta. Nama Hoogdrink Water Leiding Bedrijf diganti menjadi Tepas Tirto Marto.

Saat itu, perusahaan air minum ini dipimpin warga pribumi. Yakni, KRT Ir Mertonegoro. Setelah kemerdekaan pada 1945, Tepas Tirto Marto resmi dimiliki sepenuhnya oleh Republik Indonesia.

Perubahan nama kembali terjadi pada periode 1969-1970. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Kotamadya Daerah Tingkat II Jogjakarta Nomor 6 Tahun 1970 ditegaskan Tepas Tirto Marto diubah menjadi  Perusahaan Jawatan Air Minum Tirtamarta.

Upaya memaksimalkan penyediaan air minum terus dilakukan. Pemerintah pusat membangun sumber air berupa sumur dangkal di Jongkang dan Karangwuni. Selain itu, dibangun pula sumur gravitasi di Karanggayam.
“Instalasi pengelola air di Padasan juga dibangun, untuk menggantikan Umbul Lanang yang rusak terkena banjir lahar dingin Gunung Merapi,” imbuh pria kelahiran Kulonprogo ini.

Perubahan nama perusahaan air minum kembali terjadi pada 1976. Kali ini didasarkan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Jogjakarta Nomor 3 Tahun 1976. Perusahaan Jawatan Air Minum Tirtamarta diganti menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Tirtamarta Jogjakarta.

Tirtamarta memiliki arti penyediaan air yang merata. Dalam bahasa Jawa, tirta berarti air dan marta bermakna merata.

Pengembangan terus dilakukan. Akhir 1977 dibangun sumber air dari sumur dalam di Blambangan dan sumur dangkal di Winongo.

Penyediaan sumber air PDAM Tirtamarta kembali ditambah dengan Perjanjian Penerusan Pinjaman tanggal 22 Maret 1978 antara Pemerintah Swiss dengan Pemerintah Indonesia. PDAM Tirtamarta dan Ditjen Cipta Karya Departemen PUTL melalui Proyek Phase I Tahap 1 membangun beberapa sumber air dan instalasi pengolahan.

Yakni, dua belas sumur dalam di Bedog dan sumur dalam di Karanggayam. Dibangun pula lima buah reservoir Bedog berkapasitas 2.500 meter kubik dan reservoir di Karanggayam berkapasitas 1.000 meter kubik.
“Dengan selesainya proyek tersebut maka jumlah air yang diproduksi berjumlah 400 liter per detik,” ujar Majiya.

Dana pinjaman dari pemerintah Swiss masih tersisa. Dana tersebut dimanfaatkan untuk menggarap proyek Phase I Tahap 2. Ada penambahan beberapa instalasi air. Di antaranya, delapan buah sumur dalam dan bak pengumpul berkapasitas 80 meter kubik di Ngaglik, serta sembilan redrilling sumur dalam di Bedog dan Karanggayam.

Proyek tersebut juga membangun instalasi aerasi bawah tanah di Ngaglik dan Karanggayam. Dengan demikian, saat itu total jumlah air yang diproduksi mencapai 530 liter per detik.

Memasuki periode 1986-1990, PDAM Tirtamarta membangun penangkap air di Umbul Wadon. Dana dari pemerintah pusat digunakan untuk pemasangan pipa DM 250 dengan panjang 6.131 meter guna mengalirkan air dari Umbul Wadon sampai Bak Pelepas Tekan (BPT) Bedoyo. Ada pula pengembangan jaringan pipa distribusi sepanjang  2.400 meter.

Pemasangan pipa tersebut menambah jaringan pipa yang sudah ada. Termasuk jaringan pipa distribusi sepanjang 94 ribu meter yang dipasang periode 1969-1982.

Menjelang era milenium, periode 1996-2001, PDAM Tirtamarta menjadi perusahaan yang mampu menyediakan air minum bagi sebagian besar masyarakat Kota Jogja. Gedung untuk kantor pusat yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi No 3 Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis, Kota Jogja, pun direhabilitasi.

“Pada periode 2002 sampai sekarang ada lagi penambahan beberapa instalasi pipa-pipa air. Kini kami mampu menyediakan air minum bagi lebih dari 32 ribu pelanggan,” ujar Majiya. (inu/amd)