RADAR JOGJA – Setelah empat bulan mempertahankan zona hijau, Kecamatan Cangkringan ditemukan adanya kasus positif Covid-19. Karena hal tersebut, wilayah Cangkringan saat ini berstatus kuning.

Camat Cangkringan, Suparmono menjelaskan perubahan status Cangkringan menjadi zona kuning ini dipengaruhi oleh adanya satu kasus positif Covid-19 pada Senin (27/7). Kasus positif pertama terjadi saat seorang warga yang merupakan pendatang dari Jakarta dan pulang ke Cangkringan dengan tujuan berobat lantaran sakit liver.

Menurut Suparmono, warga tersebut datang ke Cangkringan sejak Senin (13/7). Karena sudah berada di dusun, pihak dusun pun meminta warga yang bersangkutan untuk isolasi mandiri dan melakukan rapid test di puskesmas setempat. Berdasarkan hasil rapid test pertama tersebut, yang bersangkutan dinyatakan non reaktif. “Karena non reaktif, yang bersangkutan akhirnya pulang ke rumah dan diisolasi, bersama dengan dua orang yang merawatnya,” jelas Suparmono Kamis (30/7).

Setelah beberapa hari, yang bersangkutan kembali sakit dan melakukan rapid test. Dari hasil tersebut, diketahui reaktif dan dilanjutkan dirujuk ke RSUD Prambanan untuk menjalani swab dan pengobatan. Setelah mendapat infornasi tersebut, tracing mulai dilakukan. Menyasar tiga rumah dengan 18 orang yang lokasinya berdekatan dengan rumah kasus positif. Dari tracing tersebut, didapatkan satu orang reaktif yaitu ibu dari kasus positif. “Serumah ada tiga orang. Yang reaktif satu, ibunya umur 80 tahun yang kemudian kemudian dirujuk ke RSUD Prambanan karena kami khawatir,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19, pihak kecamatan menyepakati, satu RT yang terdiri dari 8 rumah dengan 34 warga di dalamnya untuk isolasi mandiri. Yang mana pemerintah desa dan warga akan melakukan pendistribusian untuk logistik. Selain itu, Suparmono juga mengimbau kepada masyarakat untul menghubungi pihak desa jika ada saudara atau keluarga yang akan pulang. “Jika Desa bisa mencegah agar tidak pulang, diharapkan tidak pulang. Namun jika terpaksa pulang, akan disiapkan tempat isolasi mandiri,” kata Suparmono.

Sedangkan untuk tempat wisata di wilayah Cangkringan, tambah Suparmono, saat ini masih dalam pengawasan oleh tim keamanan dan petugas gugus tugas setempat. Setiap harinya, khususnya Sabtu dan Minggu petugas akan berkeliling untuk mengingatkan pendatang agar bisa mematuhi protokol kesehatan. “Penerapan protokol terketat ada di tambang dan pariwisata juga dicek terus. Dalam waktu dekat kita akan sampling rapid test untuk petugas posko pembayaran tambang untuk pencegahan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Sudarningsih menuturkan pihaknya akan melakukan pemantauan di sejumlah destinasi wisata yang saat ini telah melakukan uji coba terbatas. Jika dalam pemantauan terjadi pelanggaran maka pihaknya akan memberikan sanksi. Baik yang bersifat ringan maupun berat. “Kalau melanggar yang sifatnya ringan kita peringatkan, seperti tidak memakai masker. Kalau pelanggaran yang berat, bisa kita hentikan uji coba terbatasnya,” tegas Sudarningsih.

Pengelola destinasi wisata diminta untuk memastikan operasional. Baik dari sisi manajemen karyawan maupun pelayanan tamu dapat konsisten menerapkan protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19. Selain itu, pelaku pariwisata juga diminta untuk selalu memakai masker di ruang publik secara baik dan benar. Menerapkan etika batuk dan bersin, selalu menjaga jarak 1,5 meter, serta menghindari kerumunan di objek wisata. “Jika pengelolaan manajemen dan perilaku wisatawan dapat bersinergi baik, tentunya sangat positif untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 dan bergeraknya sektor pariwisata,” kata Sudarningsih. (eno/bah)