RADAR JOGJA – Salah satu tenaga teknis Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Lelaki berusia 42 tahun ini diketahui sebagai petugas lapangan salah satu organisasi pemerintah daerah (OPD).. Warga Kota Jogja ini telah menjalani rawat inap isolasi sejak 28 Juli.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi membenarkan informasi tersebut. Langkah medis selanjutnya adalah melakukan tracing dan tracking kepada pasien kasus tersebut. Mulai dari rekan kerja hingga keluarga dan lingkungan.

“Benar ada satu tenaga teknis Pemkot positif Covid-19. Tracing semntara rekan satu ruangan ada enam orang lalu pertemuan dengan orang luar ada lima orang,” jelasnya melalui sambungan telepon, Jumat (31/7).

Terungkapnya kasus ini berawal dari swab mandiri ketika tenaga teknis ini merasakan tak enak badan. Beberapa gejala di dntaranya mengarah pada Covid-19. Salah satunya adalah sesak nafas.

“Masih kami lacak secara detail untuk kasus ini. Kami blocking agar kasus tak menyebar luas. Sebelas kontak erat sudah kami minta karantina diri,” katanya.

Plt Kepala Dinkes Kota Jogja Tri Mardoyo telah berkoordinasi dengan kepala dinas OPD terkait agar memberikan izin kepada enam rekan pasien untuk melakukan karantina diri. Tujuannya untuk meminimalisir potensi persebaran Covid-19.

Jajarannya juga meminta adanya disinfeksi di ruang kerja pasien Covid-19. Juga melacak mobilisasi selama di luar kantor. Diketahui bahwa pasien ini adalah petugas yang bekerja di lapangan.

“Data kami ada 5 orang luar UPT yang sempat  kontak erat selama 15 menit lebih. Warga Tegalrejo, Bausasran, Kotagede dan Giwangan. Langsung koordinasi masing-masing wilayah untuk tracing lebih cepat,” ujarnya ditemui di RPH Giwangan.

Terkait mobilisasi, Sekretaris Dinkes Kota Jogja ini telah memiliki data. Pada 21 Juni pasien tersebut sempat mengikuti halal bihalal dengan 50 orang. Lalu 1 Juli sempat mengikuti halal bihalal di tempat berbeda. Kemudian dia mulai masuk kantor 9 Juli dan menjalankan aktivitas seperti biasa. 

“Tapi yang halal bihalal ini juga belum tentu sudah positif. Masih kami dalami kenanya (tertular Covid-19) kapan, dimana dan oleh siapa,” katanya.

Sempat pula melakukan rapid diagnostic test (RDT) pada 15 Juli dan hasilnya non reaktif. Memasuki 21 Juli sudah merasakan gejala sakit. Di antaranya pusing, sesak nafas dan pilek. Berlanjut uji swab mandiri 25 Juli dan hasilnya positif Covid-19.

“Hasilnya keluar 28 Juli dan langsung jalani isolasi di rumah sakit rujukan. Dari hasil tracing ini tidak pernah keluar kota, terutama daerah merah seperti Surabaya dan Jakarta,” katanya. (dwi/tif)