RADAR JOGJA – Prosesi Hajad Dalem Garebeg Besar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berlangsung berbeda. Tak ada tujuh gunungan yang dipanggul oleh para abdi dalem konco abang. Seluruhnya berganti dengan 2.700 tangkai ubarampe gunungan. Terangkai dalam bilah bambu layaknya tangkai bunga.

Putri Pertama Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 GKR Mangkubumi menuturkan prosesi ini menyesuaikan kondisi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tujuh gunungan digantikan dengan 2.700 tangkai ubarampe gunungan. Berupa rengginang dalam berbagai bentuk.

“Prosesinya doa bersama, lalu membagikan untuk Puro Pakualaman dan Kepatihan besok (1/8). Masing-masing dua rangkaian ubarampe. Lalu adapula untuk masing-masing tepas,” jelasnya, ditemui di Keben Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Jumat (31/7).

Walau begitu peniadaan Garebeg bukan berarti menghilangkan esensi dan nilai kesakralan. GKR Mangkubumi menuturkan nilai budaya masih terpatri kuat. Hanya saja ada penyesuaian terkait kondisi pandemi Covid-19.

Pertimbangan utama adalah proses setelah hantaran gunungan, sebab rayahan yang akan dilakukan oleh warga. Apabila tetap dengan gunungan tentu akan melanggar Protokol Covid-19.

Tak hanya Hajad Dalem Garebeg Sawal, beberapa prosesi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat juga ditiadakan. Seperti prosesi Numplak Wajik dan rangkaian lainnya. Namun peniadaan ini tak mengurangi esensi nilai karena ini upacara adat.

“(Garebeg) Tidak mungkin diadakan tapi yang pakem tetap diselenggarakan. Hanya memang tidak dalam bentuk gunungan. Esensinya sama, sedekah Raja kepada kerabat dan rakyatnya,” katanya.

Upacara inti pada pembagian ubarampe tersebut serupa dengan prosesi garebeg yang umum dilaksanakan. Ubarampe gunungan akan terlebih dahulu dirangkai. Lalu diinapkan satu malam di Bangsal Srimanganti.

Prosesi hantaran juga tak seperti biasanya. Tak ada bregada yang mengawal gunungan. Begitupun sepasang gajah yang mengawal gunungan menuju Kadipaten Pakualaman. Hantaran dinaikan kendaraan roda empat jenis pickup.

Masing-masing hantaran dikawal oleh dua kendaraan roda empat. Terdepan adalah mobil patroli milik polisi. Sementara mobil kedua adalah kendaraan operasional milik Pemerintah Provinsi DIJ.

“Prosesi pemberangkatannya tetap di Bangsal Srimanganti. Didoakan oleh Abdi Dalem Kaji. Esensi dan filosofi tetap, cuma saat ini bentuknya saja wajik bukan gunungan,” ujarnya. 

Puluhan abdi dalem mendatangi Bangsal Srimanganti secara bergantian. Ada yang datang secara personal ada pula sebagai perwakilan. Salah satunya adalah Wakil Pengageng Puroloyo Imogiri KRT Rekso Suryo Hasmoro.

Pria berusia 68 tahun ini dipasrahi puluhan tangkai ubarampe gunungan. Seluruhnya dibawa ke Kantor Kantor Puroloyo Imogiri. Pembagian dilakukan kantor tersebut kepada 96 abdi dalem Puroloyo Imogiri.

“Ini sudah kali kedua, sebelumnya Idul Fitri juga seperti ini karena ada Covid-19. Semua tepas menerima sesuai dengan jumlah abdi dalemnya,” katanya.

Tangkai rengginang ini merupakan kali kedua baginya. Sebelumnya Rekso Suro Hasmoro sempat mengikuti prosesi yang sama saat garebeg Syawal. Umborampe pemberian Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ini dia simpan.

“Hanya disimpan untuk kenangan garebeg Idul Adha. Kalau abdi dalem lain tidak tahu untuk apa. Ada yang disimpan atau lain itu sudah personal abdi dalem,” ujarnya. (dwi/tif)