RADAR JOGJA – Dunia seni dan sastra berduka sepeninggal Ajip Rosidi. Selain aktif menulis puisi, fiksi, maupun esai, ia juga tokoh yang diperhitungkan di dunia seni rupa. Hingga akhir hayat dan di usianya yang tak lagi muda, Ajip masih berkeinginan membangun pondok pesantren yang akan diberi nama Nassar.

AHMAD SYARIFUDIN, Mungkid, Radar Jogja

Ajip Rosidi juga sedang mengerjakan sebuah roman. Sayang, takdir berkehendak lain. Rabu (29/7) malam sekitar pukul 20.00, pria kelahiran Jatiwangi, Jawa Barat, 31 Januari 1938 ini menghembuskan napas terakhir. Almarhum dimakamkan di Desa Pabelan, Mungkid, Kabupaten Magelang, Kamis  (30/7).

Oei Hong Djien (OHD), seorang kolektor lukisan asal Kota Magelang  saat ditemui di sela-sela pemakaman bercerita kekagumannya mengenai sosok pengarang puisi “Bayangan” ini. “Terakhir punya cita-cita bikin pondok pesantren di sini, namanya Nassar. Karena koleksi Nassar banyak, untuk membiayai menjual lukisan Nassar itu,” tuturnya.

Ia mendengar keinginannya itu terakhir saat menjenguk 3 Juli lalu. “Dalam hati saya, apa bisa kondisinya begini. Melihat semangat begitu saya pun optimistis,” jelasnya.

Selain dikenal dengan puisi dan esainya mengenai sastra, Ajip cukup familiar di kalangan pelukis. “Beliau teman baik Popo Iskandar. Saya bisa dapat karya Popo Iskandar yang tidak lazim. Pernah dihadiahi lukisannya Salim,” tuturnya.

Putri bungsu almarhum, Titis Nitiswari, juga bercerita karangan terakhir yang belum sempat diselesaikan ayahnya. Saat itu kondisi kesehatannya sudah menurun. “Titis, saya punya ide mau bikin roman, judulnya Menjadi Indonesia,” ungkapnya, menirukan perkataan almarhum.

Waktu itu Ajip sudah tidak mampu mengetik sendiri. Titis-lah yang membantu mengetik untuk karya romannya itu. Ia pula yang membawakan beberapa majalah sebagai bahan riset untuk romannya.

“Ada fragmen yang mesti dicek. Kami membawa beberapa buku untuk dicek sama bapak. Mau meneruskan udah keburu jatuh yang kedua,”  kata Titis.

Almarhum masih memiliki gelora yang membuncah, mengabaikan tubuhnya yang tak mampu lagi menopang semangat. Serangan jantung ia anggap enteng. Saat terjatuh untuk kali kedua, terjadilah pendarahan di otaknya. Selang berapa lama baru terdeteksi hingga obat tak mampu menyelamatkan nyawanya.

Ajip Rosidi yang meninggal dalam usia 82 tahun ini meninggalkan istri aktris senior Nani Wijaya, enam anak, 11 cucu dan empat cicit. (laz)