RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo memastikan upaya swab masal masih akan terus berlangsung. Walau di satu sisi dia mengakui ada kendala dalam melakukan pemeriksaan specimen. Sebab, kapasitas laboratorium penguji specimen Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang penuh.

Joko membeberkan adanya lonjakan specimen yang masuk laboratorium. Sebab, seluruh kabupaten/kota melakukan uji swab secara bersamaan. Dengan begitu, kiriman sampel ke laboratorium mengalami penumpukan.

“Penyelenggaraan bareng, karena sample jadi banyak. Arahan Dinkes DIJ dilakukan serentak. Mungkin ini tidak diperhitungkan,” jelasnya ditemui di Ponpes Pandanaran, Rabu (29/7).

Diketahui specimen asal Sleman sempat ditolak oleh beberapa laboratorium penguji. Alasannya adalah melimpahnya sampel swab yang masuk secara bersamaan. Apabila kondisi ini terus berlanjut maka imbasnya adalah efektivitas swab masal.

“Untuk saat ini sudah minta tolong ke Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY. Agar bisa melakukan uji specimen dan mereka bisa,” katanya.

Masalah tak berhenti sampai di sini. Penyimpanan specimen perlu dipertimbangkan. Pasca terambil, specimen hanya bisa bertahan selama tiga hari. Setelah disimpan dalam lemari pendingin bersuhu 2 – 8 derajat celcius.

Specimen bisa bertahan lama apabila disimpan dalam kotak penyimpanan khusus. Syaratnya wajib memiliki suhu dibawah -10 derajat celcius. Joko mengklaim specimen bisa bertahan lebih lama dengan teknik penyimpanan ini.

“Secara kualitas swab tidak ada masalah tapi keterlambatan tracing ini yang perlu dipikirkan. Semakin cepat maka lebih efektif. Kalau semakin mundur maka ditakutkan sebaran kasus semakin meluas,” ujarnya. (dwi/ila)