RADAR JOGJA – Tiga provider komunikasi menempatkan menara suarnya di Desa Kaliharjo, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, yang memiliki empat pedukuhan. Sayang, ketiganya tetap tidak bisa dinikmati oleh masyarakat satu dusun.

GARAP TUGAS: Guru berkunjung ke siswa kelas 9 karena keterbatasan internet. Foto kiri, anak-anak belajar daring dengan layanan wifi murah yang digagas para pemuda di Bintaran Kidul, Mergangsan, Kota Jogja, (29/7). ( ISTIMEWA )

Dusun Krajan, Tengahan, dan Jeruk Purut lebih leluasa menggunakan telepon genggam yang dimiliki. Sementara warga satu pedukuhan yakni Dusun Kedungrejo terpaksa harus berjuang untuk sekedar bisa bercakap melalui sambungan telepon ataupun menggunakan internet.

Terdiri atas tiga rukun tetangga (RT), semua wilayah di Kedungrejo boleh dikatakan blank sinyal. Kondisi semakin dirasakan dalam situasi sekarang ini, di mana saluran komunikasi menggunakan handphone harus diutamakan.

Tidak akan menjadi permasalahan berarti bagi yang sekadar untuk berkomunikasi saja, karena bisa mencari tempat yang relatif ada sinyal untuk melakukan. Namun bagi keluarga yang memiliki anak sekolah, yang dirasakan amat menyesakkan. Tidak mungkin harus mencari tempat yang baik untuk bisa mengerjakan tugas sekolah.“Sinyal di tempat kami ini yang kuat hanya satu. Yang lain ada, tapi datang dan pergi,” kata Eni Mustaningah, istri Suranto, ketua RT 2 RW 1 Desa Kaliharjo, Kaligesing, Purworejo, Rabu (29/7).

Walaupun bisa, untuk sekadar mengirim pesan kerap kali harus terjeda. Kondisi itu memaksa warga setempat berjuang untuk bisa mendapatkan sinyal. Dan, upaya yang dilakukan adalah meninggikan tempat handphone. “Sudah setahun terakhir ini rumah-rumah yang susah sinyal di tempat kami membuat semacam tiang dari bambu untuk menempatkan handphone atau mifi yang bisa digunakan handphone kami,” tambah ibu dua anak ini.

KREATIF: Memasukkan mifi ke kaleng plastik, lalu ditarik ke pucuk tiang bambu agar penerimaan sinyal kuat.( BUDI AGUNG RADAR JOGJA )

Pantuan Radar Jogja, peralatan yang ada teramat sederhana. Tiang bambu ditanamkan ke dalam tanah dan ada bagian yang ditempelkan di sisi rumah untuk penguat. Di bagian atas ditempatkan pengerek yang kerap digunakan untuk gantang burung.

Ada tali yang ditempatkan layaknya tiang bendera. Untuk menempatkan handphone atau mifi disiapkan tempat khusus terbuat dari kaleng platik bekas yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga bisa untuk naik turun. “Sekarang saya pakai mifi, kalau dulu pakai handphone. Mifi ini empat jam sekali harus turun dan dicas. Untuk njagani saya punya dua alat,” tambah pedagang pakaian keliling ini.

Bantuan sinyal dari tiang bambu ini memang sangat membantunya dalam berkomunikasi. Demikian halnya untuk mendukung kegiatan anak pertamanya, Diva Eka Permata, yang belajar di kelas 3 SDN Baledono dalam belajar. “Tugas sekolah sekarang memang diberikan lewat WhatsApp. Tapi anak juga harus punya email sendiri karena ada tugas yang harus dikirim lewat email,” tambahnya.

Menurutnya, anaknya kini memang bisa belajar nyaman di rumah sendiri dan tidak berkelompok. Sementara anak-anak lain yang hanya memiliki satu handphone tidak jarang memanfaatkan jaringan wifi yang dimiliki perangkat desa yang ada di Kedungrejo. “Teman-teman yang lain kalau garap tugas memang ke rumah Pak Supati (ketua RW) atau Pak Mugiyanto (perangkat desa). Di sana sudah pasang wifi,” katanya.

Mugiyanto sendiri mengakui selama pandemi, rumahnya kerap digunakan anak-anak untuk belajar. Meski diakui juga ada anak yang memanfaatkan untuk bermain game. “Yang main game saya arahkan sore hari saja, karena pagi dan siang khusus untuk mengerjakan tugas dari sekolah,” kata Mugiyanto.

Banyak SD dan SMP Tak Terjamah Daring

(ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA FILE )

Tenaga pendidik atau guru di jenjang pendidikan SD maupun SMP di Kabupaten Purworejo tetap mengalami kesulitan selama Covid-19 ini. Target kurikulum yang seharusnya diberikan, tidak bisa dioptimalkan oleh mereka.
Dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sendiri sebenarnya sudah diberikan kelonggaran, di mana tenaga pendidik tidak dibebani untuk memenuhi seluruh kurikulum yang ada. Materi yang diberikan lebih mengutamakan hal yang esensial.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Purworejo Sukmo Widi Harwanto mengungkapkan, situasi sekarang memang mengharuskan orang tua untuk bisa mengambil alih peran guru. Walaupun memang tidak secara penuh dilakukan oleh orang tua.

“Hanya sebagian saja. Dan pemanfaatan daring menjadi bentuk untuk bisa menyampaikan materi kepada anak,” kata Sukmo. Menurutnya, banyak hal yang menjadi penghambat keberlangsungan pendidikan sistem daring ini.
Masyarakat memberikan alasan yang beraneka ragam yang mau tidak mau harus bisa diterima pihaknya. “Kami akui di Purworejo ini anak-anak di jenjang SD yang terjamah oleh daring hanya sebagian kecil saja,” tambahnya.

Sukmo menyebut sekitar 30 persen saja yang sudah bisa terjangkau. Sisanya 70 persen belum bisa melakukan daring. Di jenjang SMP, angkanya sudah lebih baik lagi. “Di SMP juga sebenarnya belum bisa, tapi angkanya lebih baik dari SD, di kisaran 45 persen-50 persen,” ungkapnya.

Situasi sekarang memang memunculkan anggapan jika tenaga pendidik tidak bekerja. Namun dalam pandangannya, guru malah dituntut mampu melakukan kerja ekstra. Mereka dituntut bisa melakukan serangkaian inovasi dalam menularkan ilmunya.

Hal lain yang juga menjadi kendala adalah semakin minimnya guru berstatus aparatur sipil negara (ASN). Di lapangan, SD banyak ditopang oleh tenaga wiyata bhakti (WB) di mana secara persyaratan sebenarnya belum memenuhi kualifikasi. “Dan kesejahteraan guru WB ini masih menjadi keprihatinan kita semua, karena masih di bawah UMK,” tambahnya.
Penggunaan daring di mana menggunakan banyak data juga akan dirasakan WB. Demikian pula untuk menjangkau anak-anak yang telah membentuk kelompok kecil, juga membutuhkan sarana pendukung. (udi/laz)