RADAR JOGJA – Selama pandemi Covid-19, proses belajar mengajar dilakukan di rumah menggunakan sistem daring. Namun tidak semua masyarakat dapat mengakses dan menjalankan sistem itu dengan lancar dan mudah. Seperti yang dirasakan Yusia Putriana, 29, warga Bintaran Kidul, Wirogunan, Kota Jogja.

Ia mengeluhkan proses pembelajaran daring. “Saya ini kan kerjanya glidhik, terkadang HP saya bawa kerja. Tugas-tugas anak saya sering ngirimnya telat,” jelas Yusia kepada Radar Jogja Rabu (29/7).

Ibu dua orang anak itu juga mengeluhkan penggunaan data yang boros sejak belajar daring. Dulu satu bulan 5 Gb cukup. Tetapi dengan belajar daring dia bisa menghabiskan 10 Gb sampai 15 Gb. “Karena harus mengunduh materi, kemudian banyak materi yang harus diakses melalui internet,” ujarnya.
Dia juga harus menghabiskan uang sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu untuk membeli kuota. Dia pun berharap persoalan ini bisa segera teratasi, terlebih jika ada subsidi perihal kuota.

Kendati demikian, dia tidak bisa menampik bahwa saat pandemi ini belajar di rumah adalah salah satu yang tepat. Sebab, dia masih mengkhawatirkan anak-anaknya jika harus belajar di sekolah. “Namanya anak kan tidak tahu ya, apalagi masih kecil-kecil, harus ada pengawasan dari orang tua,” tambahnya.
Tak hanya orang tua, siswa juga mengeluh. Siswa merasa lebih nyaman ketika belajar melalui tatap muka langsung dengan gurunya. “Kalau lewat HP menangkap materinya susah,” kata Ascayatama Pradipta Ibrahim, siswa kelas 3 SD Margoyasan.

Melihat kondisi hal ini, para pemuda yang tergabung dalam Paguyubunan Bintaran Bersatu tergerak untuk menyediakan layanan internet murah untuk warganya. “Awalnya saya mendengar keluhan dari salah satu warga, yang mana selama tiga hari harus menghabiskan Rp 60 ribu untuk belajar daring. Lama kelamaan banyak yang mengeluh. Kemudian saya ngobrol dengan teman-teman saya dan berniat menyediakan layanan wifi murah untuk belajar daring,” jelas Ketua Paguyuban Bintaran Bersatu Reno Ardhana.

Kini, hampir seluruh KK di Bintaran Kidul dapat menikmati wifi gratis ini. “Cukup membayar Rp 30 ribu per gadget, dapat digunakan selama satu bulan tanpa batas. Dari 180 KK di Bintaran Kidul ini, sekitar 90 persen sudah bisa mengakses. Kecuali satu dua KK karena di wilayah blankspot, jadi masih akan kami usahakan,” ungkapnya.

Reno menyebutkan, warga dapat membayar Rp 30 ribu ke paguyuban itu dan akan diberi dalam bentuk voucher. “Nantinya sebagian uang tersebut akan kami masukkan untuk kas, dan semoga kami bisa menyediakan layanan internet di wilayah yang lain,” harapnya.

Sebagai supporting penyedia jasa layanan internet masyarakat di Bintaran Kidul, Direktur Partnership Pelangi Surya Persada (PSP) Jogja Kurniawan Mardiharta menyampaikan, pihaknya berkomitmen untuk memberikan solusi layanan internet untuk masyarakat. “Yakni dengan koneksi internet yang murah tetapi juga cepat,” katanya.

Dia menyebutkan, untuk satu minggu pertama pihaknya akan menggratiskan wifi. “Wifi yang terpsang ini jangkauannya sekitar 100 meter dengan kekuatan internet kurang lebih 20 Mbps. Semoga layanan ini dapat bermanfaat dan menjadi solusi bagi masyarakat saat pandemi, khususnya untuk digunakan anak-anak saat belajar online,” tandasnya. (cr1/laz)