RADAR JOGJA – Warga Desa Margodadi Seyegan tak menolak pembangunan ruas tol Jogja-Bawen jika biaya kompensasi sepadan dengan luasan lahan terdampak. Tercatat ada 76 bidang tanah dengan luasan 55.478 meter persegi yang dilewati oleh trase tol Jogja-Bawen.

Salah satu warga terdampak adalah Surajito. Pria sepuh berusia 67 tahun ini harus merelakan sawah miliknya menjadi lokasi pembangunan konstruksi tol. Walau dia belum mengetahui detil luas lahan terdampak.

“Saya ikhlas kalau untuk pembangunan. Tapi juga berharap ganti yang layak, syukur dicarikan lahan untuk ditukar lahan, itu terimakasih. Soalnya masih sawah produktif,” jelasnya, ditemui di Balai Desa Margodadi Seyegan Sleman, Rabu (29/7).

Surajito memiliki lahan seluas 5.000 meter persegi. Seluruhnya dimanfaatkan sebagai lahan produktif. Untuk setiap 2.000 meter persegi mampu menghasilkan 1,5 ton padi basah. Setiap tahunnya bisa panen sebanyak tiga kali.

Surajito memiliki alasan tersendiri atas dipilihnya ganti lahan. Dia tetap ingin melakoni profesi sebagai petani, sesuai dengan wasiat almarhum orang tuanya. Bahwa jangan sampai meninggalkan profesi sebagai petani.

“Harapannya bisa mengolah tanah lagi. Kalau uang nanti bisa jadi ceh-cehan, bisa habis untuk foya-foya,” katanya.

Kepala SMK 17 Seyegan Eni Pujiasri juga tak menolak adanya pembangunan tol Jogja-Bawen. Hanya saja dia berharap kegiatan belajar dan mengajar (KBM) tetap berlangsung. Sehingga 182 siswa sekolahnya tetap mendapatkan ilmu pengetahuan yang proporsional.

SMK 17 Seyegan memiliki luas lahan 2.100 meter persegi. Dari total tersebut sebanyak 1/3 lahan dan bangunan terdampak pembangunan tol Jogja-Bawen. Bangunan terdampak meliputi seluruh laboratorium, kantin, dapur dan toko sekolah.

“Kalau kami masih belum bisa berpikir jauh tapi sudah punya ancang-ancang. Sudah konsultasi dengan penanggungjawab tol,” ujarnya.

Walau begitu Eni tak menampik ada dampak signifikan. Terlebih lokasi pembangunan sangat dengan lingkungan sekolah. Sehingga perlu upaya serius untuk mendapatkan solusi.

“Secara umum dunia pendidikan dekat jalan raya tentu bising dan tidak nyaman. Karena kami milik yayasan bukan (sekolah) negeri sehingga perlu koordinasi,” katanya. (dwi/tif)