RADAR JOGJA – Upaya swab massal Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) bertahap mulai berlangsung di Kabupaten Sleman. Pasca tenaga kesehatan, kini mulai menyasar lingkungan pendidikan tepatnya pondok pesantren (ponpes). Upaya medis ini diawali dengan ustad dan pengurus Pondok Pesantren Pandanaran Ngaglik Sleman.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menuturkan aksi ini merupakan wujud gerakan nasional. Kabupaten Sleman, lanjutnya, menargetkan 5.000 spesimen hingga akhir Agustus. Sementara target nasional mencapai 30 ribu specimen setiap harinya.

“Kalau kami target perminggu 1.000 specimen. Target tenaga kesehatan sudah tercapai dan sekarang menyasar tempat pendidikan berasrama,” jelasnya ditemui di Pondok Pesantren Pandanaran, Rabu (29/7).

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini berharap swab massal mampu memetakan persebaran Covid-19. Dipilihnya ponpes atas pertimbangan mobilisasi tinggi. Baik oleh tenaga pengajar, pengurus maupun para santri.

Uji swab kepada ustad dan pengurus sebagai upaya screening sebelum bertemu dengan para santri. Selain itu juga atas pertimbangan daerah asal. Diketahui bahwa sebagian sumber daya manusia ponpes Pandanaran berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Pengajar dari Jateng dan Jatim tapi untuk presentasenya belum tahu. Kalau total pengajar ada 300an orang, lalu untuk swab kali ini kami ambil 100 sampel. Hasil swab keluar dalam waktu tiga hari,” katanya.

Joko tak menampik upaya ini sebagai preventif awal. Diketahui bahwa ponpes Pandanaran telah mengajukan izin rekomendasi. Hasilnya, lembaga pendidikan berasrama ini telah dinyatakan aman dari Covid-19. 

Selain fasilitas, ponpes Pandanaran juga telah membentuk Satgas Covid-19. Bahkan juga telah mendirikan ruang karantina bagi para santri. Fungsinya untuk mengkarantina para santri yang datang dari berbagai daerah.

Secara umum setidaknya ada 50 ponpes yang telah mengajukan ijin rekomendasi. Seluruhnya telah diperiksa oleh Gugus Tugas Covid-19 Sleman. Dari total tersebut baru tiga ponpes yang mendapatkan ijin rekomendasi.

“Sudah dua kali melakukan cek fisik ke lapangan, Pandanaran termasuk yang paling siap karena punya satgas di dalam pesantren. Awal agustus boleh mulai kegiatan, karena sarana sudah cukup lengkap,” ujarnya.

Uji swab di lingkungan ponpes masih berlanjut. Sasaran ke depannya adalah ponpes yang berada di Sleman timur, tepatnya Prambanan atau Berbah. Lalu Sleman barat di wilayah Kecamatan Minggir atau Moyudan.

“Kalau ada yang positif, kebijakannya tetap harus isolasi di rumah sakit. Belum menerapkan pedoman Kemenkes RI positif tanpa gejala cukup isolasi di rumah, kami belum,” katanya.

Kepala Kantor Kemenag Sleman Sa’ban Nuroni mengapresiasi upaya swab massal di lingkungan ponpes. Menurutnya langkah ini mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi para santri. Terlebih para tenaga pengajar ini kedepannya akan bertatap muka secara intens.

Berdasarkan data Kantor Kemenag Sleman ada sekitar 150 ponpes di Sleman. Terkait data siap operasional pihaknya belum bisa memastikan. Ini karena seluruh pengajuan izin rekomendasi langsung ke Gugus Tugas Covid-19 Sleman.

“Pengajar itu kan sebagai sentral kegiatan, kalau mereka ada masalah kan bisa nyebar kemana mana. Kalau mereka aman, otomatis yang lain aman,” ujarnya.

Sa’ban juga berharap skema protokol kesehatan Ponpes Pandanaran dapat menjadi contoh. Mulai dari upaya screening hingga penerapan protokol kesehatan Covid-19. Menyasar para tenaga pengajar hingga para santri.

“Seperti di Pandanaran ini (santri) harus dikarantika 14 hari baru boleh masuk komplek pondoknya. Kalau sudah ada di komplek juga tetap terapkan protokol kesehatan,” katanya. (dwi/tif)