RADAR JOGJA – Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispetaru) DIJ Krido Suprayitno menegaskan peta sosialisasi tol Jogja-Bawen bersifat definitif. Ini karena saat pendataan awal ada potensi bergeser. Terlebih setelah dilakukan pengecekan dan sinkronisasi lapangan.

Mantan Kepala Pelaksana BPBD DIJ menuturkan ada beberapa penyebab. Mulai dari keberadaan sumber mata air hingga konstruksi selokan Mataram. Termasuk keberadaan situs cagar budaya hingga sekolah dan rumah peribadahan.

“Lalu tidak mungkin jalan tol mengikuti belokan-belokan selokan mataram. Tol secara konstruksi harus lurus. Mau belok pun, harus ada elevasi secara teknis. Itu terjadi di Margodadi dan Margokaton (Seyegan),” jelasnya, ditemui usai Sosialisasi Tol Jogja-Bawen di Balai Desa Margodadi Seyegan Sleman, Rabu (29/7).

Krido memastikan pergeseran peta adalah hal yang wajar. Itulah mengapa sosialisasi menjadi sangat penting dilakukan. Untuk selanjutnya menjadi evaluasi dan diolah menjadi data terbarukan.

Berdasarkan data setidaknya ada tiga titik yang mengalami perubahan. Selain Margodadi ada Margokaton dan Sumbermulyo. Ketiga titik tersebut, lanjutnya, dievaluasi setelah tinjauan fisik Selokan Mataram.

“Sehingga nanti saat konsultasi publik kurang lebih sebulan ke depan, akan menyajikan data lagi. Sudah bisa dipastikan betul, karena sudah dicek oleh pemilik tanah,” katanya.

Dia mencontohkan beberapa titik di Margodadi. Ada dua fasilitas publik terdampak pembangunan tol Jogja-Bawen. Diantaranya Gereja Santo Thomas Seyegan dan SMK 17 Seyegan. Terdampak cukup banyak adalah bangunan milik SMK 17 Seyegan. 

Krido memastikan proses pembangunan tol tak mengganggu kegiatan belajar dan mengajar. Termasuk pasca berdirinya tol Jogja-Bawen. Ruang kosong yang berada di bawah jalan bebas hambatan tersebut masih bisa digunakan sebagai fasilitas umum.

“Sudah dibebaskan jalan tol namun bisa dimanfaatkan untuk fasilitas sekolah. Jadi (SMK 17 Seyegan) tidak usah pindah maupun relokasi. Karena yang terkena sebagian besar adalah parkir, dan bukan bangunan,” ujarnya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksanaan Tol Jogja-Bawen Heru Budi Prasetya memastikan tak ada penolakan dari warga selama proses sosialisasi. Pihaknya mengklaim seluruh warga terdampak mendukung pembangunan tol Jogja-Bawen.

Terkait dampak ke SMK 17 Seyegan dan Gereja Santo Thomas masih dalam tahap koordinasi. Baik kepada pengurus sekolah maupun yayasan pengasuh gereja. Heru menjamin keberadaan tol tak akan mengganggu rutinitas kedua fasilitas publik tersebut.

“Kami pastikan untuk proses belajar mengajar tetap berjalan. Tapi nanti tetap ada sosialisasi dari pihak kontraktor. Untuk mengurangi dampak pembangunan seperti debu dan suara pancang,” katanya.

Pembangunan ruas tol Jogja-Bawen melewati 3 kecamatan dan 7 desa di Sleman. Tol sepanjang 7,65 kilometer ini menggunakan lahan seluas 496.209 meter persegi. Dengan jumlah bidang mencapai 915 bidang tanah.

Dari total ruas tol tersebut sebanyak 75 persen dibangun secara elevated. Artinya pembangunan ruas tol tidak terlalu memakan banyak bidang tanah. Untuk kawasan Margodadi sendiri menggunakan 76 bidang tanah seluas 55 .478 meter kubik.

“Hingga saat ini tidak ada perubahan desain yang ada. Hanya konstruksinya saja yang menyesuaikan,” ujarnya. (dwi/tif)