RADAR JOGJA – Setelah dilakukan tes swab dan rapid diagnostic test (RDT) masal kepada tenaga medis di Sleman, selanjutnya Gugus Tugas Covid-19 Sleman menyasar tempat pendidikan berasrama atau pondok pesantren. Tes swab akan dilakukan secara sampling ke pondok yang ada di Kabupaten Sleman mulai besok (29/7).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo menjelaskan lokasi pertama yang akan disasar adalah pondok pesantren Pandanaran di Kecamatan Ngaglik. Untuk selanjutnya, tes swab akan diteruskan ke Kecamatan Moyudan mewakili Sleman bagian Barat dan Kecamatan Berbah untuk wilayah Sleman Timur. Mengingat belum banyak santri yang datang, tes swab akan dikhususkan untuk ustadz yang berasal dari luas Sleman.

Sedangkan untuk para santri yang akan datang kembali ke pondok, tambah Joko, wajib menunjukkan bukti bebas Covid-19 bagi santri yang berasal dari daerah pemberlakuan PSBB. “Dan menggunakan surat sehat jika tidak dari wilayah PSBB. Untuk selanjutnya akan dikarantina selama 14 hari,” jelas Joko Senin (27/7).

Dari 5.000 sasaran tes swab yang telah dicanangkan sejak Juni, tambah Joko, akan diperpanjang hingga Agustus. Saat ini, sudah ada sekitar 2.000 tenaga medis yang melakukan tes swab. Dengan sisa kuota akan diperuntukkan bagi pondok pesantren, tempat rawan kerumunan seperti pasar dan pelayanan publik, destinasi wisata dan sasana olaharaga, serta pelaku perjalanan.

Untuk hasil tes swab, Joko mengaku akan bekerjasama dengan laboratorium milik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). “Yang telah mendapatkan sertifikasi, meskipun hanya mampu melakukan tes 60-100 spesimen setiap harinya,” tambahnya.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Sleman, Novita Krisnaeni mengaku tes swab di pondok pesantren Pandanaran dipilih karena lokasi yang dianggap representatif. Nantinya, ada 100 dari total 300 ustaz di Pondok Pesantren Pandanaran yang akan dilakukan swab. Dipilih dari berbagai bidang dan diutamakan yang berasal dari luar Sleman.

Saat ini, tambah Novi, pihaknya tengah berkoordinasi dengan pengurus pondok terkait data ustaz yang akan mengikuti swab. “Karena tidak mungkin akan melakukan tes swab untuk semua. Kami prioritaskan ustaz-ustaz yang dari wilayah luar Sleman,” jelas Novi.

Untuk pesantren yang lain, Novi mengaku juga akan mengambil tes swab. Hanya, untuk teknisnya akan dilakukan secara acak. Sehingga dari satu pesantren hanya memberikan perwakilan. Setelah pondok pesantren, Dinas Kesehatan Sleman juga berencana melakukan swab di beberapa kantor pelayanan publik, seperti Disdukcapil, Dinas Perizinan, dan terminal. Yang mana tempat-tempat pelayanan publik juga dianggap memiliki risiko penularan Covid-19 cukup tinggi.

Sementara Ketua Gugus Tugas Perceptan Covid-19 PP Sunan Pandanaran Gus Azka Sya’bana mengaku guru yang ada masih berasal dari wilayah DIJ dan sekitarnya. Yang mana ustaz dan ustazah yang dari dalam pesantren berjumlah 400. Sedangkan pengajar dari luar ada sebanyak 475. “Persiapannya tempat, peserta dan teknisnya sudah. Tempatnya di area pesantren tetapi bukan di asrama santri,” kata Azka.

Untuk antisipasi lainnya, tambah Azka, pihaknya juga menerapkan protokol kesehatan seperti wajib memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak. Bahkan kedatangan santri dengan sistem drive thrue dan penyemprotan serta pengecekan barang juga dilakukan. “Sekitar 500 santri yang sudah datang dan untuk kamar memang sudah terbatas tidak berkerumun,” tambahnya. (eno/bah)