RADAR JOGJA – Kapasitas laboratorium polymerase chain reaction (PCR) untuk menguji sampel milik suspek Covid-19 kembali penuh. Jika terus berlanjut, dikhawatirkan akan menghambat penanganan pandemi Covid-19 di DIJ.

Juru Bicara Pemprov DIJ untuk penaganan Covid-19 di DIJ Berty Murtiningsih ( RADAR JOGJA FILE )

Juru Bicara Pemprov DIJ untuk penaganan Covid-19 di DIJ Berty Murtiningsih menjelaskan, untuk menangani masalah ini, solusi sementara adalah merekrut tenaga analisis untuk membantu operasional laboratorium. “Dilakukan dengan bekerja sama dengan organisasi profesi,” jelas Berty Senin (27/7).

Pihaknya juga melakukan evaluasi terkait jadwal tes swab masal yang dilakukan oleh masing masing kabupaten dan kota. Di sisi lain, positivity rate atau perkembangan rasio jumlah kasus terkonfirmasi positif di DIJ dikatakan mengalami peningkatan signifikan selama beberapa Minggu terakhir. Peningkatan juga dibarengi masifnya upaya pemeriksaan sampel.

Periode 12-24 Juli sebesar 2,7 persen. Jumlah itu, mengalami kenaikan dibandingkan dengan 2 minggu terakhir periode lalu, sebesar 1,95 persen. ”Standar dari WHO(World Health Organization) menargetkan positif rate kurang dari 5 persen,” jelasnya.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji ( RADAR JOGJA FILE )

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, Pemprov DIJ telah menerima bantuan satu unit mobil PCR dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menunjuang pelaksanaan swab masal. Sehingga, tes dapat dilakukan di tempat-tempat umum berkat mobilitasnya yang tinggi.

Hanya, pengoperasian masih menunggu kesiapan laboratorium. Bantuan ini diharapkan dapat mengurai antrian pemeriksaan sampel di laboratorium. “Tetap harus dilaksanakan ahlinya. Alat itu kita tempatkan di salah satu lab yang masih ada sumber daya manusianya,” katanya.

Aji melanjutkan, pihaknya belum memiliki rencana untuk menambah jumlah laboratorium PCR di DIJ. Sebab, laboratorium dikatakan masih mampu menguji seluruh sampel yang masuk. Walaupun waktu tunggunya mencapai tiga hingga empat hari. “Kalau mau nambah di (laboratorium) mana lagi?” jelasnya.

Kendati demikian, Aji berkenan melakukan pendekatan bila memang ada laboratorium lain yang sanggup melakukan pemeriksaan sampel. Misalnya Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). “Kalau siap kami bisa komunikasi dengan mereka. Nanti kami lakukan pendekatan,” tuturnya.

Antrian yang membludak dikatakan sempat terjadi beberapa bulan lalu. Waktu tunggu uji sampel bisa mencapai setengah bulan atau 15 hari. “Kami sempat merawat seseorang di ruang positif, tapi hasil PCR-nya negatif, itu kan boros tenaga dan tempat,” urainya.

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jogjakarta menjadi salah satu laboratoium PCR di DIJ. Laboratorium ini dikatakan telah berhasil mengurai antrian pemeriksaan sampel. “Insyaallah saat ini kami sudah hampir berhasil mengurai antrian sempel karena setiap harinya kami bisa memeriksa 1000-an sampel,” tutur Kepala BBTKLPP Jogjakarta dr Irene.

Saat ini DIJ memiliki lima laboratorium PCR dengan kapasitas maksimal sekitar 1.750 sampel perhari. Dengan rincian BBTKLPP sekitar 1000 sampel, RSUP dr. Sardjito sebanyak 240, Fakultas Kedokteran UGM 400 sampel, Balai Besar Veteriner Wates 48 sampel, RSPAU Hardjolukito sebesar 56 sampel. (tor/bah)