RADAR JOGJA – Museum Vredeburg Jogjakarta resmi beroperasi walau terbatas. Skema yang diusung adalah penerapan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Sehingga pembukaan museum masih menerapkan uji coba operasional terbatas. 

Untuk mengunjungi museum, setidaknya wajib menerapkan tiga protokol utama. Pertama penggunaan masker selama di lingkungan museum, menjaga jarak antar pengunjung. Ketiga adalah mencuci tangan di setiap wastafel yang tersedia.

“Operasional terbatas ini berlaku hari ini hingga Kamis (30/7).  Jadi kapasitasnya satu hari maksimal 220 orang. Itu dibagi empat sesi dan satu sesi satu jam. Satu sesi maksimal 55 orang” jelas Kepala Museum Benteng Vredeburg Jogjakarta Suharja, Selasa (28/7).

Penerapan skema ini tentu berdampak pada ruang dioarama. Suharja menuturkan hanya empat ruang diorama yang operasional. Pertimbangannya masing-masing ruangan memiliki kapasitas besar. Sehingga bisa menerapkan physical distancing.

Untuk sementara waktu dua ruangan tak difungsikan. Di antaranya ruang pemutaran film reguler dan ruangan pemutaran film Jumat dan Minggu. Pertimbangannya adalah ruangan tertutup dan memiliki kapasitas kecil.

“Pengunjungnya kami bagi sesuai dengan tata pameran. Ruang pemutaran film belum (operasional) karena itu kemungkinan risiko maka belum berani,” katanya.

Pihaknya juga melakukan pembatasan terhadap pengunjung. Prioritas utama adalah wisatawan asal Jogjakarta. Kebijakan ini berlaku selama tiga hari hingga Kamis (30/7). Pertimbangannya adalah potensi episentrum Covid-19.

Regulasi ini berlaku kecuali bagi mahasiswa atau warga luar yang berdomisili Jogjakarta. Kebijakan ini merupakan implementasi dari peraturan Wali Kota Jogja dan Peraturan Gubernur DIJ. Sehingga kebijakan yang diterapkan bersifat evaluatif.

Adapula pendataan dengan scanning barcode. Berupa pengisian data nomor handphone nama dan alamat. Tujuannya sebagai antisipasi apabila muncul kasus positif Covid-19. Khususnya yang memiliki riwayat berkunjung ke Museum Vredeburg.

“Sementara ini belum menerima wisatawan yang berasal dari luar Jogjakarta. Pertimbangannya adalah regulasi dari aturan Wali Kota dan Peraturan Gubernur,” ujarnya.

Sebuah skema baru juga tengah disiapkan pasca tanggap darurat dengan penerapan waktu operasional terbatas. Dalam satu pekan, Museum Vredeburg hanya operasional selama empat hari. 

“Jika masa darurat oleh Gubernur (HB X) diperpanjang maka dibukanya tetap dengan uji coba operasional terbatas. Nah akan buka hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Hanya empat hari saja nanti di Agustus kalaupun nanti kemungkinan masih diperpanjang,” katanya.

Salah seorang pengunjung Safitri Dyah Anggraini menyambut baik operasional Museum Vredeburg. Menurutnya langkah ini dapat menjaga khasanah pengetahuan tentang sejarah Indonesia. Terlebih selama pandemi museum ini operasional telah terhenti.

Perempuan berusia 42 tahun ini mengapresiasi penerapan protokol kesehatan Covid-19. Telah berjalan baik sesuai dengan regulasi yang berlaku. Mulai dari cuci tangan sebelum masuk gerbang Benteng Vredeburg, pemeriksaan suhu tubuh hingga physical distancing. Setiap diorama memiliki penanda lantai untuk menjaga jarak.

“Protokol sudah bagus dan nyaman banget. Penerapan protokol tidak mengganggu karena memang kondisi harus begini. Upaya pemerintah agar ekonomi tetap berjalan tapi kesehatan tetap terjaga,” ujarnya. (dwi/tif)