RADAR JOGJA – Para shohibul kurban perlu memastikan asal hewan kurbannya. Karena sapi-sapi yang selama ini digembalakan di TPST Piyungan juga diperjualbelikan. Sapi dari TPST Piyungan dinilai tidak aman dikonsumsi.

Beberapa truk mengantre untuk bongkar muat di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Senin (27/7). Sebab dermaga di bagian atas mulai penuh. Dua bulldozer sibuk mendorong sampah agar tidak menumpuk di tepi jalan. Sementara pemulung mengais rejeki. Juga ratusan sapi mencari makan di tumpukan sampah yang baru dimuntahkan truk pengungkit.

Ada sebanyak 87 warga di sekitar TPST Piyungan yang memelihara sapi. Sapi-sapi mereka tidak dirawat di peternakan. Bahkan tidak memiliki kandang. Sapi-sapi ini hanya berguling di sekitar pohon untuk berteduh. Sapi-sapi ini bebas berkeliaran dan bersatu tanpa papan nama. Namun, tiap sapi mengenali pemiliknya. Sebab sapi yang bernama Kliwon, akan mendekat ketika pemiliknya memanggil namanya. Namun, hanya jika si pemilik saja yang memanggilnya.

Juru bicara warga sekaligus Ketua Komunitas Pemulung TPST Piyungan Maryono mengungkap sapi yang berkeliaran di TPST Piyungan berjumlah sekitar 1.500 ekor sebelum pandemi Covid-19. “Karena saat pandemi pendapatan warga menurun, warga jadi jual sapi. Sekarang tinggal sekitar 1.100 ekor,” ucapnya ditemui di gudang kasur bekas miliknya Senin (27/7).

Menurut Maryono, memelihara sapi merupakan sebuah investasi. Warga dapat membeli sapi dengan harga Rp 10 juta per ekor. Kemudian dijual kembali dengan harga Rp 14 juta per ekor di tahun berikutnya. Padahal, sapi-sapi itu mengais sendiri makanannya di tumpukan sampah. Sapi-sapi itu disebutnya, dapat membedakan makanan yang dapat dikonsumsinya. Seperti sisa roti, nasi, sayur, atau buah yang ada di TPST Piyungan. Sementara material plastik tidak akan mereka konsumsi.

“Sapi-sapi kami tidak ada yang dijual untuk kurban besok,” sebut Maryono. Sebab sapi-sapi yang baru dibeli di TPST Piyungan tidak langsung disembelih. Tapi dikarantina dulu selama tiga bulan. Dengan demikian sapi-sapi tersebut diklaim sudah netral dari zat-zat berbahaya.

Benarkah? Direktur Halal Research Center Fakultas Peternakan UGM Nanung Danar Dono menyebut klaim Maryono tidak benar. Sapi yang makan di tumpukan sampah tetap rentan terpapar zat logam berbahaya. Sebab pengelolaan sampah di TPST Piyungan tidak memisahkan sampah berdasarkan jenisnya.

Meski sudah menjalani karantina selama beberapa bulan. Sapi-sapi itu tetap saja mengandung zat logam berbahaya. “Sapi yang dirawat sejak kecil kan bertumbuh. Darah yang mengalir di tubuhnya menyebar menjadi daging dan menetap di situ selamanya,” jelasnya.

Apabila daging dikonsumsi, zat itu akan berpindah ke tubuh yang mengkonsumsinya. Artinya, manusia yang mengkonsumsi daging sapi yang tercemar, sel di tubuhnya juga akan ikut tercemar. “Walapun konsumsinya hanya sedikit, itu tetap akan berdampak. Terutama pada risiko kanker,” paparnya.

Sebagai perbandingan, Radar Jogja menghubungi salah satu peternak sapi di Sedayu, Bantul Rika Daru Efendi. Menurut dia, sapi jantan dewasa biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 16 juta. Sehingga sapi yang dijual oleh peternak di sekitar TPST Piyungan dengan harga Rp 14 juta dianggapnya murah.

Sementara itu, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul Joko Waluyo berharap adanya pemasangan microchip terhadap sapi-sapi di TPST Piyungan. Untuk mengetahui peredaran sapi-sapi asal TPST Piyungan. “Kami hanya meminta itu. Kalau sapi diberi microchip, kan bisa dipantau,” ujarnya. (cr2/pra)