RADAR JOGJA – Di tengah pandemi Covid-19, Universitas Gajah Mada (UGM) menunjukkan aksi nyata dengan melakukan pengabdian kepada masyarakat (PKM). Yakni pengabdian yang dilakukan dosen sekolah pascasarjana UGM kepada warga RW 11, Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Jogja, tentang edukasi dan sosialisasi melalui perantara Bank Sampah Suryo Gemati dalam pencegahan persebaran Covid-19.

“Dengan dukungan dari Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM kami melakukan PKM di RW 11 Suryodiningratan dengan mengangkat tema inti bagaimana pemberdayaan bank sampah. Karena ada pandemi, kemudian kami kaitkan dengan pemanfaatan sampah sekaligus media tanam di antaranya jenis tanaman obat untuk pencegahan Covid-19,” ujar Ketua Pelaksana PKM UGM RW 11 Suryodiningratan Dr Ahmad Zubaidi M.Si kepada Radar Jogja kemarin (26/7).

Dia menyebutkan, kegiatan ini merupakan tahap awal di program tahun pertama dengan konsep edukasi berkelanjutan. “Saya berharap ke depan akan berjalan lancar dan bisa diajukan kembali untuk pengembangan di tahun berikutnya. Yakni tidak hanya ke edukasi saja tetapi juga praktik,” tutur Sekretaris Prodi S2 Ketahanan Nasional UGM ini.

Wakil Ketua Pelaksana PKM UGM RW 11 Suryodiningratan Prof Sri Rum Giyarsih M,Si menambahkan, program di RW itu yang terpenting adalah berkelanjutan. Mengingat kegiatan ini didanai oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM yang berkonsep untuk menuju pembangunan berkelanjutan.

PKM selain untuk mengedukasi masyarakat tentang pencegahan dan penanganan Covid-19 juga untuk memanfaatkan lingkungan. Agar lingkungan dapat menopang kehidupan masyarakat terlebih makhluk hidup sangat bergantung dengan lingkungan.

“Yang terakhir untuk memberdayakan ekonomi mereka nantinya. Karena pandemi ini sangat berpengaruh di perekonomian,” ujarnya.

PKM memiliki target seluruh masyarakat di RW 11 Suryodiningratan dapat terbebas dari sampah, sehingga tercapai ketahanan lingkungan. “Kami memiliki rencana di 2022 atau tahun ketiga menciptakan kampung wisata di RW 11 Suryodiningratan seperti kampung wisata berbasis lingkungan, Sukunan itu. Tiga tahun ke depan akan kami fokuskan di sini dulu agar keberlanjutan dan pengembangan dapat terealisasi dengan baik,” paparnya.

Bank Sampah Suryo Gemati dipilih berdasarkan data sekunder yang mereka miliki Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja yang menunjukkan bahwa kelompok itu menjadi rujukan tempat lain. Selain itu juga mendapat pembinaan dari DLH Kota Jogja. “Dengan fenomena itu bagi kami lebih memudahkan untuk pengembangan,” katanya.

Selain itu Bank Sampah Suryo Gemati memiliki keunikan yaitu meski di lingkungan kota tetapi bisa dikembangkan pengolahan sampah yang sangat produktif. Terlebih juga dikombinasikan dengan berbagai macam tanaman seperti sayuran, tanaman obat keluarga (toga), buah-buahan, dan sebaginya. (sce/cr1/laz/ila)