RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo memastikan kapasitas tempat tidur bagi pasien Corona Virus Disease 2019 di Sleman masih mencukupi. Tercatat saat ini ada sekitar 155 tempat tidur di rumah sakit rujukan wilayah Sleman. Sementara untuk pasien ber-KTP Sleman yang masih menjalani rawat inap isolasi mencapai 35 pasien.

Pernyataan ini guna menanggapi terus melonjaknya kasus positif Covid-19 di Sleman. Penambahan ini berdasarkan upaya screening massal maupun tracing sebuah kasus. Gugus Tugas Covid-19 Sleman mencatat akumulasi kasus positif di Sleman mencapai 181 kasus.

“Kapasitas untuk yang rumah sakit rujukan dengan SK Gubernur di luar (RSUP) Sardjito itu sekitar 115, ditambah dengan Rumah Sakit intermediate 40 tempat tidur. Artinya kapasitas (tempat tidur) di Sleman masih memadai,” jelasnya ditemui di Pendopo Parasamya Setda Pemkab Sleman, Senin (27/7).

Walau begitu, mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini tak menampik terkait kuota tempat tidur. Terlebih jika angka penambahan kasus konsisten dalam beberapa waktu kedepan. Diketahui bahwa angka penambahan kasus Covid-19 di Sleman terus melonjak setiap harinya.

Gugus Tugas Covid-19 Sleman menargetkan setidaknya 1.000 uji swab dalam satu minggu. Sementara target total uji swab mencapai 5.000 uji swab. Skema ini tentu menjadi konsekuensi bertambahnya kasus setiap harinya.

“Hitungannya, penduduk Sleman itu 1,1 juta, sampelnya 1/1.000 penduduk itu yang harus kami ambil. Kemudian untuk yang kira-kira menimbulkan semacam klaster ya kami kejar dengan tracing diperluas,” katanya.

Upaya screening massal ini merupakan hasil konsultasi dengan ahli epidemiologi FKKMK UGM. Setidaknya ada lima prioritas yang menjadi sasaran uji swab. Pertama adalah tenaga kesehatan di Puskesmas maupun Rumah Sakit.
Prioritas selanjutnya adalah tempat pendidikan berasrama. Pertimbangannya para siswa berasal dari berbagai wilayah. Ketiga adalah tempat berkerumun masyarakat baik di pasar tradisional maupun pasar modern, mall hingga tempat pelayanan publik. Termasuk didalamnya kegiatan pariwisata dan olahraga.

“Keempat adalah pelaku perjalanan, sasarannya adalah individu yang tidak melakukan tes mandiri. Tapi urutan prioritas pertama adalah tenaga kesehatan karena rentan terpapar,” ujarnya.

Tindak lanjut dari skema ini adalah screening massal dengan swab. Tercatat untuk tenaga kesehatan sudah mencapai sekitar 2.000 uji swab. Menyusul kemudian uji swab di tiga pondok pesantren. Uji medis ini direncanakan berlangsung lusa depan, Rabu (29/7).

Joko menuturkan ada tiga pondok pesantren yang dipilih. Seluruhnya mewakili Kabupaten Sleman sisi timur tepatnya wilayah Kecamatan Berbah, tengah di Kecamatan Ngaglik dan sisi barat di kawasan Kecamatan Moyudan.
“Rencana awal kami menyasar Ponpes Pandanaran. Uji swab ini menyasar ustad-ustad dan tenaga pendidik di pesantren. Jadi mengkondisikan pengurus pesantren sehat dulu nanti baru bisa menerima santri-santri dari luar daerah,” katanya.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman Novita Krisnaini menuturkan uji swab di pondok pesantren telah melalui kajian. Pertimbangannya, lingkungan tersebut mayoritas berasal dari wilayah berbeda. Termasuk berasal dari daerah episentrum Covid-19.

Pondok pesantren Pandanaran, lanjutnya, memiliki sekitar 300 ustaz. Jumlah sampel yang diambil mencapai 100. Prioritas utama adalah ustaz yang berasal dari luar Kabupaten Sleman. Skema ini berlaku agar bisa mewakili kondisi setiap pondok pesantren.

“Beberapa pesantren nanti akan kami ambil secara acak nanti ada perwakilan. Kedepan juga menyasar kantor-kantor, terutama yang melayani publik, termasuk juga terminal. Sasarannya yang ada resiko terjadinya penularan cukup tinggi,” ujarnya. (dwi/tif)