RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengeluhkan kapasitas uji swab di laboratorium penguji. Walau telah melakukan uji swab massal tapi pengujian belum efektif. Penyebabnya kuota beberapa laboratorium telah penuh.

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini mengakui kapasitas menjadi kendala tersendiri. Seiring dengan massifnya uji swab tentu perlu diimbangi dengan kapasitas laboratorium penguji. Apabila tak seimbang maka upaya swab massal menjadi optimal.

“Semua laboratorium pemeriksaan itu sedang dalam kondisi bahasa Jawanya kewowogen. Jadi menolak untuk permintaan uji PCR,” jelasnya ditemui di Pendopo Parasamya Setda Pemkab Sleman, Senin (27/7).

Di satu sisi Joko memahami kondisi ini. Laboratorium penguji, lanjutnya, juga melakukan pengujian banyak spesimen. Baik atas permintaan rumah sakit maupun Dinas Kesehatan wilayah. Belum lagi specimen asal Jawa Tengah yang diuji oleh BBTKLPP Jogjakarta.

Sebagai catatan saat ini ada lima laboratorium penguji swab di Jogjakarta. Diantaranya BBTKLPP Jogjakarta, RSUP Sardjito, Laboratorium Mikrobiologi FKKMK UGM, Balai Besar Veteriner Wates dan RSPAU Hardjolukito.

“Kelimanya ini kemarin kami hubungi untuk persiapan swab massal, angkat tangan semua. Karena menampung dari berbagai Rumah Sakit maupun Dinas Kesehatan yang juga sama-sama melakukan permintaan pemeriksaan swab,” katanya.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY untuk melakukan uji terhadap sampel terambil. Langkah ini guna mengoptimalkan pengujian swab massal.

“FKIK UMY sudah mendapatkan ijin dan Alhamdulillah mereka sanggup untuk menerima (sampel) swab kita (Sleman). Sehari bisa 60 sampai 100 specimen. Sudah lumayan, kami agak tenang,” ujarnya.

Gugus Tugas Covid-19 Sleman menargetkan 5.000 swab hingga Agustus. Tercatat hingga saat ini sudah melakukan sekitar 2.000 uji swab. Sisanya akan dilakoni dengan skema 500 uji swab perminggunya.

Rencana uji swab turut terimbas penolakan laboratorium penguji. Awalnya skema ini ditargetkan rampung akhir Juli. Sayangnya rencana berubah dengan adanya keterbatasan uji sampel swab.

“Sehingga akhirnya kami perkecil. Dalam waktu lebih panjang sekitar 6 minggu untuk 3.000 uji swab atau perminggu 500 specimen. Kira-kira akhir Agustus target 5.000 uji swab tercapai,” katanya.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ Berty Murtiningsih tak menampik adanya keterbatasan uji swab. Pihaknya tengah menyiapkan penambahan tenaga analis untuk membantu operasional laboratorium. Selain itu uga mengevaluasi kembali jadwal pengambilan swab massal. Langkah ini guna menghindari datangnya specimen kabupaten dan kota dalam waktu bersamaan. Sehingga setiap wilayah dapat melakukan swab madsal secara optimal.

“Untuk FKIK UMY sedang dalam kajian untuk diusulkan ke Kemenkes sebagai jejaring laboratorium Covid-19. Sambil menunggu, kami tetap optimalkan laboratorium penguji yang ada,” ujarnya. (dwi/tif)